Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Seksio Sesaria



   
 Konsep Dasar Seksio Sesaria
a.    Definisi Seksio Sesaria
Seksio sesaria merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin dengan insisi melalui abdomen dan uterus. Suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan saraf rahim dalam keadaan utuh serta berat di atas 500 gram (Wiknjosastro: 2005).
Seksio sesaria merupakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Marjoen: 2001)
Dari pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa seksio sesaria merupakan suatu tindakan melahirkan janin melalui suatu pembedahan dengan cara melakukan insisi pada dinding perut dan dinding rahim.
b.    Indikasi Seksio Sesaria
Ada beberapa indikasi pasti kelahiran sesaria yaitu:
1)   Kegagalan progresi persalinan (distosia): kerja uterus abnormal dan disproporsi sefalopelvik
2)   Malpresentasi/ malposisi: sungsang, wajah dan dahi, letak lintag, oksipito-posterior, prolaps tali pusat, dan kehamilan multiple
3)   Perdarahan antepartum: abrupsio plasenta dan plasenta previa
4)   Penyakit hipertensi pada kehamilan
5)   Diabetes melitus
6)   Keadaan janin: distress janin dan berat badan lahir sangat rendah
7)   Primigravida tua
8)   Kegagalan induksi persalinan
9)   Seksio sesaria berulang
(Derek Ilewellyn-Jones: 2002)
c.    Komplikasi Seksio Sesaria
Kelahiran sesaria bukan tanpa komplikasi, baik bagi ibu maupun janinnya. Komplikasi maternal terjadi pada 25% sampai 50% kelahiran dan meliputi aspirasi, emboli pulmoner, infeksi luka, luka, tromboflebitis, perdarahan, infeksi saluran kemih atau usus, dan komplikasi yang berhubungan dengan anestesi. Juga ada risiko janin lahir prematur jika usia gestasi tidak dikaji dengan akurat dan risiko cedera janin dapat terjadi selama pembedahan. Selain itu, wanita tersebut memiliki risiko finansial karena biaya kelahiran sesaria lebih tinggi daripada biaya kelahiran pervaginam dan periode pemulihan yang lebih lama memerlukan biaya tambahan.
Banyak wanita yang melahirkan secara sesaria mengungkapkan perasaan yang mempengaruhi pertahanan mereka terhadap konsep diri yang adekuat. Perasaan-perasaan ini meliputi rasa takut, kecewa, frustasi karena kehilangan kontrol, marah (sindrom “kenapa saya”) serta kehilangan harga diri yang terkait dengan perubahan citra diri. Keberhasilan dalam kegiatan pengasuhan dan pemulihan dapat sangat bermanfaat dalam mengembalikan harga diri wanita ini.
d.   Jenis-Jenis Seksio Sesaria
Dua tipe utama operasi sesaria ialah sesaria klasik dan sesaria segmen bawah. Kelahiran sesaria klasik kini jarang dilakukan, tetapi dapat dilakukan bila diperlukan pelahiran yang cepat dan pada beberapa kasus presentasi bahu dan palsenta previa. Insisi vertikal dilakukan ke dalam bagian tubuh atas uterus. Prosedur ini terkait dengan jumlah insiden kehilangan darah, infeksi, dan ruptur uterus yang lebih tinggi pada kehamilan selanjutnya daripada pelahiran dengan prosedur sesaria segmen bawah.
Kelahiran sesaria segmen bawah dapat dilakukan melalui insisi vertikal (Sellheim) atau insisi transversal (Kerr). Insisi transversal lebih populer karena lebih mudah dilakukan, kehilangan darah relatif lebih sedikit, dan infeksi pascaoperasi lebih kecil, dan kemungkinan ruptur pada kehamilan selanjutnya lebih kecil (Cunninghum, dkk, 1993; Dunn, 1990). Kelahiran per vaginam setelah sesaria dengan insisi klasik dikontraindikasikan.   
e.    Proses Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang mati/ rusak dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal. Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan, 2002).


Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi kedalam tiga fase utama adalah sebagai berikut:
1)   Fase inflamasi
Fase ini berlansung selama 0-3 hari, dimana terjadi vasokontriksi pembuluh darah, sementara pembuluh darah yang rusak akan melepaskan sel mast, sel mast akan melepaskan histamin dan mediator kimia lain, yang menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekelilingnya yang masih utuh. Mediator kimia seperti histamin dan bradikinin akan menyebabkan reaksi inflamasi seperti nyeri, kemerahan, terasa panas pada area sekitar luka Terjadi peningkatan permeabilitas kapiler, kapiler darah meningkat dan cairan yang kaya akan protein mengalir ke dalam interstisial yang menyebabkan edema lokal, terjadinya migrasi leukosit dan makrofag ke daerah yang rusak, sebagai reaksi terhadap adanya cedera atau luka.
2)   Fase Proliferatif
Fase ini berlangsung selama 3-24 hari. Fase ini dimulai dari fibroblas meletakkan substansia dasar dan serabut-serabut kolagen serta pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka. Begitu kolagen diletakkan, maka terjadi peningkaan yang cepat pada kekuatan regangan luka. Kapiler-kapiler dibentuk oleh tunas endotelial. Tanda-tanda inflamasi berkurang, jaringan yang dibentuk dari kapiler baru yang menopang kolagen dan substansia dasar disebut jaringan granulasi karena penampakannya yang granuler dan warnanya merah terang.
3)   Fase Maturasi
Fase ini berlangsung selama 24-365 hari, pada fase ini terjadi epitalisasi, kontraksi, dan reorganisasi jaringan ikat. Dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel, pada pinggir luka, dan dari sisa-sisa folikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula sudorifera, membelah dan mulai bermigrasi di atas jaringan granula yang baru. Terdapat suatu penurunan progresif dalam vaskularitas jaringan parut , yang berubah warna merah kehitaman menjadi putih.
f.     Risiko Seksio Sesaria Bagi Ibu dan Janin
Ada sejumlah risiko fisik bagi ibu dan bayinya dalam persalinan sesaria. Risiko sesaria bagi ibu, yaitu:
1)   Infeksi
2)   Perdarahan yang meningkat
3)   Pembentukan gumpalan darah
4)   Komplikasi pasca operasi lainnya (misalnya adhesi)
5)   Waktu pemulihan pasca persalinan yang lebih lama
Risiko sesaria bagi bayi, yaitu:
1)   Masalah pernapasan
2)   Nilai APGAR yang rendah akibat anestesi
g.    Penatalaksanaan Pasca Operasi Seksio sesaria
Ibu yang mengalami komplikasi obstetri atau medis memerlukan observasi ketat setelah seksio sesaria. Perawatan umum untuk semua ibu meliputi:
1)        Kaji tanda-tanda vital dengan interval teratur (15 menit). Pastikan kondisinya stabil
2)        Lihat tinggi fundus, adanya perdarahan dari luka dan dalam jumlah lokia. Hal ini khususnya penting jika persalinan berlangsung lama, jika uterus telah mengembang oleh polihidramnion atau kehamilan multiple dan jika terdapat ancaman defek koagulasi, contohnya setelah perdarahan antepartum dan toksemia pre-eklamsia
3)        Pertahankan keseimbangan cairan, 24 jam pertama penderita puasa post operasi, maka pemberian cairan perinfus dan elektrolit  harus cukup, biasanya dextrosa 5-10 %, garam fisiologi dan ringer laktat secara bergantian. Jumlah tetesan tergantung pada keadaan dan kebutuhan, biasanya 20 tetes permenit. Bila kadar haemoglobin darah rendah, berikan transfusi darah sesuai kebutuhan. Jumlah cairan yang keluar ditampung dan diukur sebagai pedoman pemberian cairan dan dihentikan setelah penderita flatus, lalu mulailah pemberian makanan dan cairan peroral
4)        Pastikan analgesia yang adekuat. Penggunaan analgesia epidural secara kontinu sangat berguna
5)        Tangani kebutuhan khusus dengan indikasi langsung untuk seksio sesaria, misalnya kondisi medis seperti diabetes
6)        Pemberian sedikit minuman sudah boleh diberikan enam sampai sepuluh jam post operasi berupa air putih atau teh manis, jumlahnya dinaikkan pada hari pertama dan kedua post operasi. Setelah cairan infus dihentikan diberikan makan bubur saring, minuman air buah dan susu, selanjutnya secara bertahap boleh makan bubur dan akhirnya makan biasa.
7)        Biasanya dilepas 12 jam post operasi atau keesokan paginya, kemampuan selanjutnya untuk mengosongkan vesika urinaria sebelum terjadi distensi yang berlebihan harus dipantau seperti pada persalinan pervaginam. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama post operasi, pada hari kedua bising usus tersebut masih lemah, dan kemudian baru aktif kembali pada hari ketiga. Gejala kembung dan nyeri akibat inkoordinasi gerak usus menjadi gangguan menyusahkan pada hari kedua dan ketiga post operasi. Seringkali pemberian supositoria rektal akan diikuti dengan defekasi.
8)        Hematokrit diukur pagi hari setelah operasi, dicek lagi bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa. Jika hematokrit turun secara bermakna, pemeriksaan diulang kemudian dimulai suatu penelitian untuk mencari penyebabnya. Jika hematokrit stabil, pasien dapat melakukan ambulasi tanpa kesulitan apapun dan jika kemungkinan terjadinya kehilangan darah lebih lanjut adalah kecil, terapi zat besi untuk menghasilkan perbaikan hematologis lebih disukai daripada transfusi.
9)        Anjurkan fisioterapi dan ambulasi dini jika tidak ada kontraindikasi
10)    Ingat trombo-profilaksis. Ambulasi dini dan perhatian terhadap hidrasi yang mencakupi untuk ibu dengan risiko rendah dengan kehamilan tanpa komplikasi dan tidak ada faktor risiko. Hindari penggunaan Dextran 70. Heparin subkutan atau metode mekanik diperlukan jika risiko diyakini sedang. Jika risiko trombo-embolisme tinggi, heparin dan stoking kaki harus digunakan selama 5 hari setelah pembedahan. Untuk riwayat trombo-embolisme yang lalu pada kehamilan atau masa nifas, trombo-profilaksis harus dilanjutkan untuk 6 minggu pasca melahirkan.
11)    Sebelum pemulangan harus diberikan kesempatan yang sesuai dengan keadaan dan jawab pertanyaan-pertanyaan pasien
12)    Jadwalkan kesempatan untuk melakukan pengkajian ulang pasca melahirkan guna memastikan penyembuhan total, mendiskusikan kehamilan berikutnya, dan memastikan tindak lanjut perawatan untuk kondisi medisnya.

0 komentar:

Posting Komentar