Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Cedera Kepala


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.   Cedera kepala

A.      Definisi

merupakan salahsatu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakan lalulintas (kapita selekta jilid2 hal3).
Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala ,tengkorak,dan otak.cedera kepala paling sering dan penyakit neurologic yang serius diantara penyakit neurologic,dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan jalan raya.Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat cerdera kepala,dan lebih dari 700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit.diantara 50.000dan 90.000 orang setiap tahun mengalami penurunan intelektual atau tingkah laku yang menghambat kembalinya mereka menuju kehidupan normal. Dua pertiga dari kasus berusis dibawah  30 tahun,dengan jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita.
Resiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial (TIK) .
Cedera kepala dapat bersifat terbuka (menembus melalui dura meter) atau tertutup (trauma tumpul,tanpa penetrasi menembus dura). Cedera kepala terbuka memungkinkan pathogen-patogen lingkungan memiliki akses langsung ke otak .pada kedua jenis cedera akan terjadi kerusakan apabila pembuluh darah,sel glia,dan neuron hancur.

B.      Etiologi

Penyebab cedera kepala antara lain adalah kecelakaan lalu lintas,perkelahian,jatuh,dan cedera olahraga.
Sedera kepala terbuka sering di sebabkan oleh peluru atau pisau.  

C.      Klasifikasi Cedera Kepala

  1. Mekanisme
Ø  Trauma tumpul : kecepatan tinggi                                                                             (kecelakaan/tabrakan)
Ø  Trauma tembus : luka tembus peluru dll.
2.        Keparahan cedera
Ø  Ringan: (glasglow coma scale,GCS) 14-15
o   Definisi: Pasien bangun, dan mungkin bisa berorientasi
Ø  Sedang : GCS 9-13
o   Definisi: Pasien mungkin konfusi atau somnolen namun tetap mampu untuk mengikuti perintah sederhana
Ø  Berat : GCS 3-8
o   Definisi: Pasien tidak mampu mengikuti bahkan perintah sederhana karena gangguan kesadaran
3.       Morfologi
Ø  Fraktur kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya.

Ø  Lesi intrakranial
Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus, walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan.
Termasuk lesi lesi local ;
KONKUSIO
Konkusio adalah cedera kepala tertutup yang ditandai oleh hilangnya kesadaran . konkusio menyebabkan periode apneu yang singkat .konkusio dapat ringan,sedang,atau berat,bergantung pada lama kesadaran menghilang. Semakin lama kesadaran menghilang semakin buruk hasil akhirnya .namun bahkan pada konkusio ringan dapat terjadi perubahan kognitif perilaku yang samar ,walaupun tidak jelas terdapat patologi di otak.keadaan tersebut yang disebut sindrom  pascakonkusio,dapat menetap selama lebih dari satu tahun.
HEMATOM EPIDURA
                Hematom epidural adalah penimbunan darah diatas dura meter .hematom epidural terjadi secara akut dan biasanya karena perdarahan arteri yang mengancam nyawa.

HEMATOM SUBDURA
                Hematom Subdura adalah penimbunan darah dibawah dura meter ,tetapi diatas membrane araknoid.hematom ini biasanya disebabkan oleh perdarahan vena ,tetapi kadang-kadang dapat terjadi perdarahan arteri subdural.hematom subdural dapat terbentuk secara cepat,yang disebut Hematom subdural akut,atau dapat terjadi akibat perdarahan lambat,yang disebut Hematom subdural subakut . orangtua atau pecandu alcohol dapat menderita hematom yang tumbuh lambat selama beberapa bulan stelah suatu cedera ringan ,dan mungkin tidak memperlihatkan tanda-tanda yang jelas sampai hematom tersebut sangat besar ,hal ini disebut Hematom subdural Kronik.
PERDARAHAN SUBARAKNOID
                Perdarahan subaraknoid adalah akumulasi darah dibawah membrane araknoid,tetapi diatas pia meter.Ruang ini dalam keadaan normal hanya mengandung cairan serebrospinalis.perdarahan subaraknoid biasanya terjadi akibat pecahnya aneurisma intrakranium,hipertensi berat,malformasi arteriovena,atau cedera kepala . penimbunan darah diatas atau dibawah meninges menyebabkan peningkatan tekanan dijaringan otak dibawahnya.
HEMATOM  INTRASEREBRUM
                Hematom intraerebrum adalah perdarahan di otak itu sendiri.hal ini dapat timbul pada cedera kepala tertutup yang berat ,atau yang lebih sering ,cedera kepala terbuka.hematom intra serebrum dapat timbul akibat pecahnya suatu aneurisma atau stroke hemoragik. Perdarahan diotak menyebabkan peningkatan tekanan intracranial sehingga sel-sel neuron dan vascular tertekan.

 

D.      Tanda dan gejala

Ø  Pada konkusio,segera terjadi kehilangan kesadaran. Pada hematom ,kesadaran mungkin hilang segera ,atau bertahap seiring dengan membesarnya hematoma tau edema interstisium.
Ø  Respon pupil mungkin lenyap atau secara progresif memburuk.
Ø  Pola pernapasan abnormal.
Ø  Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan peningkatan tekanan inrakranium
Ø  Respon pupil mungkin lenyap atau secara progresif memburuk.
Ø  Perubahan perilaku,Perubahan kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat.
Ø  Dapat timbul muntah muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium
(corwin,177)









E.       Patofisiologi


Hematom temporalis
¯
Melintasi lokasi tengah telinga
¯
Pembuluh darah luka
¯
pendarahan pada telinga
Hematom
¯
Suplai darah ke daerah vaskuler¯
¯
Gangguan pada daerah respiratorik
¯
denyut nadi tidak teratur / lambat
¯
TD­


Ukuran &reaktivitas pupil
Cedera otak
¯
Kerusakan otak®RR­
¯
Otak tdk dpt menyuplai O2 &nutrisi
¯
Sel sel mati
¯
Kerusakan neuron
¯
Disfungsi otak tengah
¯
Stupor
¯
Kesadaran menurun
Kecelakaan
¯
Trauma/benturan
¯
Cedera kepala



Pendarahan,kerusakan jaringan otak
¯
Tekanan intrakranial­
¯
aliran darah ke otak ¯
¯
hipoksia
¯
Iskemik
¯
MO
¯
Muntah

Met.anaerob
¯
As.laktat­
¯
nyeri
Dilatasi pupil &RR­



F.       Pemeriksaan Diagnostik

Ø  Pemeriksaan tengkorak dengan sinar X dapat mengidentifikasi lokasi fraktur atau hematom.
Ø  CT scan /MRI dapat dengan cermat menemukan letak dan luas cedera.
(corwin,177)

G.     Komplikasi

Kemunduran pada kondisi pasien mungkin karena perluasan hematom intracranial ,edema serebral progresif,dan herniasi otak.
Edema serebral dan herniasi
Edema serebral adalah penyebab paling umum dari peningkatan tekanan intracranial pada pasien yang mendapat cedera kepala,puncak pembengkakan  yang mengikuti cedera kepala terjadi kira-kira 72 jam setelah cedera.tekanan intracranial meningkat karena ketidakmampuan  tengkorak utuh untuk membesar meskipun peningkatan volume olehpembengkakan otak diakibatkan dari trauma .sebagai akibat dari edema dan peningkatan TIK ,tekanan disebarkan pada jaringan otak dan struktur internal otak yang kaku.bergantung pada tempat pembengkakan ,perubahan posisi kebawah atau lateral otak (herniasi) melalui atau terhadap struktur kaku yang terjadi menimbulkan iskemia,infark,kerusakan otak ireversibel,dan kematian .
Defisit neurologic dan psikologik.
Pasien cedera kepala dapat mengalami paralisis saraf fokal seperti anosmia (tidak dapat mencium bau-bauan)

Ø  Kebocoran cairan serebrospinal dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan terjadi pada 2-6% pasien dengan cedera kepala tertutup.
Ø  Kejang pasca trauma dapat terjadi dalam 24 jam pertama ,minggu pertama atau lanjut setelah satu minggu.insiden keseluruhan epilepsi pasca trauma lanjut berulang setelah cedera kepala tertutup adalah 5%,resiko mendekati 20% pada pasien dengan pendarahan intrakanial .
Ø  Konkusio ringan atau sedang biasanya diterapi dengan observasi dan tirah baring
Ø  Mungkin diperlukan ligasi pembuluh yang pecah dan evakuasi hematom secara rendah.
Ø  Pada pasien yg koma GCS>8 lakukan tindakan
Elevasi kepala 30
  • Berikan manitol 20% 1g/kg intravena dalam 20-30 menit.
  • Pasang foley kateter
  • Monitor tekanan darah jika pasien memperlihatkan tanda kestabilan hemodinamik (hipotensi atau hipertensi)
(corwin,177&kapita selekta2,hal6)



H.     Penatalaksanaan

·         Konkusio ringan atau sedang biasanya diterapi dengan observasi dan tirah baring
·         Mungkin diperlukan ligasi pembuluh yang pecah dan evakuasi hematom secara bedah
·         Mungkin diperlukan pembersihan/debridement (pengeluaran benda asing dan sel-sel yang mati) secara bedah,terutama pada cedera kepala terbuka
·         Mungkin dibutuhkan ventilasi mekanis
·         Untuk cedera kepala terbuka diperlukan antibiotic
·         Metode-metode untuk menurunkan tekanan intracranium termasuk pemberian diuretic dan obat anti-inflamasi
·         Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi : umumnya,pasien dengan stupor atau koma (tidak dapat mengikuti perintah karena derajat kesadaran menurun) harus diintubasi untuk proteksi jalan nafas.jika tidak ada bukti tekanan intracranial meninggi ,parameter ventilasi harus diatur sampai pco240 mmHg dan po2 90-100 mmHg.
·         Monitor tekanan darah : jika pasien memperlihatkan tanda ketidakstabilan hemodinamik (hipotensi atau hipertensi),pemantauan paling baik dilakukan dengan kateter arteri. Karena autoregulasi sering terganggu pada cedera kepala akut, maka tekanan arteri rata-rata harus dipertahankan untuk menghindari hipotensi (<70mmHg) dan hipertensi (>130mmHg). Hipotensi dapat menyebabkan iskemia otak sedangkan hipertensi dapat mengeksaserbasi serebri.
·         Pemasangan alat monitor tekanan intracranial pada pasien dengan skor GCS<8,bila memungkinkan.
·         Nutrisi: cedera kepala berat menimbulkan respons hipermetabolik dan katabolic,dengan keperluan 50-100% lewbih tinggi dari normal.pemberian makanan enteral melalui pipa nasogastrik atau nasoduodenal harus diberikan sesegara mungkin (biasanya hari ke-2 perawatan).
·         Penatalaksanaan cairan : hanya larutan isotonis (salin normal atau larutan ringer laktat) yang diberikan kepada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan dalam salin 0,45% atau dekstrosa 5% dalam air (D5W) dapat menimbulkan eksaserbasi edema serebri.
·         CT scan lanjutan: umumnya,sken otak lanjutan harus dilakukan 24 jam setelah cedera awal pada pasien dengan perdarahan intracranial untuk menilai perdarahan yang progresif atau yang timbul belakangan.namun,biaya menjadi kendala penghambat.

0 komentar:

Posting Komentar