Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Masa Nifas


BAB II
TINJAUAN TEORETIS

A.    KONSEP DASAR
1.    Konsep Dasar Masa Nifas
a.    Definisi Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) secara tradisional didefinisikan sebagai periode 6 minggu segera setelah lahirnya bayi dan mencerminkan periode saat fisiologi ibu, terutama sistem reproduksi, kembali mendekati keadaan sebelum hamil (Asep Sufyan, 2011). Pengertian lainnya Puerperium (nifas) adalah masa sejak persalinan (partus) selesai dan berakhir setelah 6 minggu, dimana alat-alat reproduksi berangsur-angsur kembali seperti normal (Mitayani, 2011).
Selama masa nifas, terjadi penurunan yang drastis kadar hormon estrogen dan progesteron dalam sirkulasi darah ibu. Penurunan konsentrasi hormon steroid mempermudah inisiasi laktasi dan memungkinkan sistem fisiologis kembali ke keadaan prahamil. Masa ini dimulai saat lahirnya bayi dan berakhir saat kembalinya fertilitas.
Dari pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pengertian masa nifas adalah masa sejak persalinan selesai atau periode 6 minggu segera setelah lahirnya bayi, dimana alat-alat reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil.
b.    Periode Masa Nifas
Periode masa nifas dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
1)      Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah seperti perdarahan.
2)      Periode Early Postpartum (24 jam – 1 minggu)
Masa dimana involusi uterus harus dipastikan dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3)      Periode Late Postpartum (1-5 minggu)
Masa dimana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari, serta konseling KB.
c.    Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas
Selama hamil, terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem muskuloskeletal, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital. Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi seperti saat sebelum hamil. Perubahan tersebut dinamakan Involusi Uterus.
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1)   Autolisis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.
2)   Terdapat polymorph phagolitik dan makrofag di dalam sistem vaskular dan sistem limfatik
3)   Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin)
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uteri sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta, serta mengurangi perdarahan.


Perubahan fisiologis dan anatomis post partum yaitu:
1)        Sistem Reproduksi
a)    Uterus
Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu kira-kira sebesar grapefruit (jeruk asam) dan beratnya kira-kira 1000 g. 
Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampa 2 cm setiap 24 jam. Uterus tidak dapat dipalpasi pada abdomen di hari ke-9 pascapartum.
Uterus, yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah melahirkan dan 350 g (11 sampai 12 ons) 2 minggu setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50 sampai 60 g.
Gambar 2.1
Kemajuan Normal Uterus
b)   Kontraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan pembekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis.
Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitoksin secara intravena atau intramuskular diberikan segera setelah plasenta lahir.
Pada primipara, tonus uterus meningkat sahingga fundus pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang awal peurperium. Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, di tempat uterus terlalu teregang (misalnya pada bayi besar dan kembar). Menyusui dan oksitosin tambahan biasanya meningkatkan nyeri ini karena keduanya merangsang kontraksi uterus.
c)    Lokia (Lochea)
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir sering kali disebut Lokia, mula-mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Selama 2 jam pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut, aliran lokia yang keluar harus  semakin berkurang.
Lokia rubra terutama mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik. Aliran menyembur, menjadi merah muda atau coklat setelah 3 sampai 4 hari (Lokia serosa). Lokia serosa terdiri darah lama (old blood), serum, leukosit, dan debris jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai putih (Lokia alba). Lokia alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus, serum, dan bakteri. Lokia alba bisa bertahan selama dua sampai enam minggu setelah bayi lahir.
Apabila wanita mendapatkan pengobatan oksitoksin, tanpa memandang cara pemberiannya, Lokia yang mengalir biasanya sedikit sampai efek obat hilang. Setelah operasi sesaria, jumlah lokia yang keluar lebih sedikit. Cairan lokia biasanya meningkat, jika klien melakukan ambulasi dan menyusui. Setelah berbaring ditempat tidur selama kurun waktu yang lama, wanita dapat mengeluarkan semburan darah saat ia berdiri, tetapi hal ini tidak sama dengan perdarahan.
Lokia rubra yang menetap pada awal periode pascapartum menunjukkan perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membran yang tertinggal. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke-10 pascapartum menandakan adanya perdarahan pada bekas tempat plasenta yanng mulai memulih. Namun, setelah 3-4 minggu, perdarahan mungkin disebabkan oleh infeksi. Lokia serosa atau Lokia alba yang berlanjut bisa menandakan endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit, atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan. bau Lokia menyerupai bau cairan menstruasi, bau yanng tidak sedap biasanya menandakan infeksi.


d)   Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam pascapartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali kebentuk semula. Muara serviks, yang berdilatasi 10 cm sewaktu melahirkan, menutup secara bertahap.
e)    Vulva dan Vagina
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vulva dan vagina yang semula sangat teregang akan kembali seperti sebelum hamil, enam sampai delapan minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan semenonjol wanita nulipara. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium.  Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan vagina. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi.
f)    Endometrium
Timbulnya trombosis, degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin. Setelah tiga hari mulai rata sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta.
g)   Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari kelima, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum melahirkan.

h)   Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil (estrogen, progesteron, Human Chrionic Gonadotropin, prolaktin, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini kembali ke kadar sebelum hamil sebagian di tentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak.
Apabila wanita memilih untuk tidak menyusui kadar prolaktin akan turun dengan cepat. Sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama beberapa hari pertama setelah wanita melahirkan. Pada hari ketiga dan keempat pascapartum bisa terjadi pembengkakan (engorgement). Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman biasanya berkurang dalam 24-36 jam.
Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi berubah posisi dari hari ke hari. Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara terba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap sekitar 48 jam. Puting susu harus diperiksa untuk dikaji erektilitasnya, sebagai kebalikan dari inversi, dan untuk menemukan apakah ada fisura atau keretakan.
2)        Sistem Perkemihan
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turu menyebabkan peningkatan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Dalam 12 jam setelah melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun dijaringan selama hamil. Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan 2,5 kg selama pascapartum.Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Kombinasi taruma akibat kelahiran, peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir, dan efek konduksi anastesi menyebabkan keinginan untuk berkemih menurun. Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni). Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam lima sampai tujuh hari setelah bayi lahir.
3)        Sistem Gastrointestinal
Sering kali diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari dan gerak tubuh yang berkurang. Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama persalinan dan pada awal pasca partum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya diperinium akibat apisiotomi, laserasi, atau hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali ke normal.
4)        Sistem Kardiovaskular
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan dam mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang menyebabkan volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil.
Hipervolemia yang diakibatkan kehamilan (peningkatan sekurang-kurangnya 40% lebih dari volume tidak hamil) menyebabkan kebanyakan ibu bisa menoleransi kehilangan darah saat melahirkan. Banyak ibu kehilangan 300-400 ml darah sewaktu melahirkan bayi tunggal pervaginam atau sekitar dua kali lipat jumlah ini pada saat operasi sesaria.
Denyut jantung,  volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit.
Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan dengan peningkatan hematokrit pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. Semua kelebihan sel darah merah akan menurun secara bertahap sesuai dengan usia sel darah merah tersebut.
Leukosit normal pada kehamilan rata-rata sekitar 12.000/mm3. Selama 10-12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 20.000-25.000/mm3 merupakan hal yang umum.
Faktor-faktor pembekuan darah dan fibrinogen biasanya meningkat selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium. Keadaan hiperkoagulasi yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah dan imobilitas, mengakibatkan peningkatan risiko tromboembolisme.
5)        Sistem Endokrin
Selama periode pasca partum, terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran placenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ- organ tersebut.
Kadar estrogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pasca partum.  Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi daripada wanita yang menyusui pada pasca partum hari ke 17.
6)        Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi ini mencakup hal-hal yang mambantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita melahirkan. Akan tetapi, walaupun semua sendi kembali ke keadaan normal sebelum hamil, kaki wanita tidak mengalami perubahan setelah melahirkan. Wanita yang baru menjadi ibu akan memerlukan sepatu yang ukurannya lebih besar.
7)        Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah lebih mengental dan terjadi peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum.
Jumlah sel darah putih tersebut masih dapat naik lagi sampai 25.000 atau 30.000 tanpa adanya kondisi patologis, jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit akan sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah, volume plasenta, dan tingkat volume darah yang berubah-ubah.
Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa postpartum, terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum.
8)        Sistem Neurologis
Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yanng dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Nyeri kepala pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan, termasuk hipertensi akibat kehamilan, stres, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang tulang punggung untuk anestesi. Lama nyeri kepala bervariasi dari 1-3 hari sampai beberapa minggu, tergantung pada penyebab dan efektivitas pengobatan.
9)        Sistem Integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada beberapa wanita, pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya.
Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil  biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya menetap. Diaforesis ialah perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen.

10)    Tanda-Tanda Vital
a)   Suhu tubuh
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5-38,00C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, payudara menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genitalis, atau sistem lain.
b)   Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat.
c)   Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena adanya perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia postpartum.
d)  Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.
d.   Adaptasi Psikologis Ibu pada Masa Nifas
Ibu pascasalin akan mengalami peningkatan kerentanan terhadap gangguan afektif, misalnya mengalami postpartum blues (kesedihan pascapersalinan), depresi, dan psikosis. Diperkirakan lebih lebih dari separuh ibu nifas mengalami gangguan emosional transien pada sekitar hari ke-3 yang disebut sebagai “the blues”. Sepuluh persen lainnya benar-benar mengalami depresi, yang awitan dan pemulihannya lebih lambat. Sebagian kecil wanita mengalami penyakit psikosis berat berkepanjangan setelah melahirkan.
Etiologi gangguan depresif ini belum sepenuhnya dipahami. Estrogen juga dikaitkan dengan perasaan sejahtera; perubahan mendadak kadar estrogen seperti yang dialami pada masa nifas mungkin mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter. Penulis lain berpendapat bahwa kadar kortisol atau a-endorfin memiliki keterkaitan lebih erat dengan depresi pascanatal. Penekanan sekresi CRH hipotalamus diperkirakan berperan dalam etiologi depresi pascanatal.
Beberapa adaptasi psikologis antara lain:
1)   Adaptasi Paternal
Proses menjadi orang tua terjadi sejak masa konsepsi selama periode prenatal, ibu merupakan bagian pertama yang memberikan lingkungan untuk berkembang dan tumbuh sebelum anak-anak lahir. Proses menjadi orang tua tidak mudah dan sering menimbulkan konflik dan krisis komunikasi karena ketergantungan penuh bayi pada orang tua. Untuk menggambarkan peran  orang tua dalam suatu proses diperlukan dua komponen :
a)    Kemampuan kognitif-motorik
Merupakan komponen pertama dari respon menjadi orang tua dilihat dari peran orang tua dalam perawatan bayinya.
b)   Kemampuan kognitif-afektif
Merupakan komponen psikologis dalam perawatan bayi, perasaan keibuan, kebapakan, dan pengalaman awal menjadi  orang tua.
2)   Fase Maternal
Tiga fase yang terjadi pada ibu post partum yang disebut “Rubin Maternal Phases”, yaitu:
a)    Taking in (Fase Dependen)
Selama satu sampai dua hari pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu menonjol. Pada waktu ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi orang lain, ibu memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Rubin (1961) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), suatu waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase menerima ini berlangsung selama dua sampai tiga hari, fase menerima yang kuat hanya terlihat pada 24 jam pertama setelah ibu melahirkan. Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orangtua sangat suka mengkomunikasikannya. Pemusatan, analisis, dan sikap yang menerima pengalaman ini membantu orangtua untuk berpindah ke fase berikutnya.
b)   Taking hold (Fase Dependen-Mandiri)
Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Keadaan ini sebagai fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari.
c)    Letting go (Fase Interdependen)
Pada fase ini perilaku interdependen muncul, ibu dan keluargaya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota saling berinteraksi.  Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh stres bagi orangtua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini.
3)   Bounding Attachment (Perasaan Kasih Sayang yang Meningkat)
Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling memikat diantara orang-orang termasuk orangtua dan anak ketika pertama kali bertemu. Attachment adalah suatu perasaan kasih sayang yang mengikat satau sama lain dan bersifat unik dan memerlukan kesabaran.


Faktor-faktor yang mempengaruhi ikatan kasih sayang orangtua dengan anak adalah :
a)    Kesehatan emosional orangtua (termasuk kemampuan mempercayai orang lain).
b)   Tingkat kemampuan berkomunikasi dan kemampuan untuk memberikan perawatan.
c)    Sistem support sosial meliputi teman, keluarga.
d)   Pendekatan orang tua terhadap bayi.
e)    Kecocokan antara orang tua dan bayi.
Selain itu ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak diperkuat oleh kemampuan berkomunikasi antara keduanya. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan ikatan kasih sayang orang tua dan anak adalah:
a)   Sentuhan, merupakan suatu perkenalan bagi bayi.
b)   Kontak mata,  dapat mempererat hubungan orang tua dan bayi dan meningkatkan rasa saling percaya.
c)    Suara, merupakan respon  yang diberikan orang tua dan bayi.
d)   Aroma/bau tubuh yang khas merupakan komunikasi melalui respon saling mengenal bau badan masing-masing.
4)   Adaptasi Ayah
Kemampuan ayah dalam beradaptasi  dengan kelahiran bayi dipengaruhi oleh :
a)    Partisipasi pada saat persalinan
Ayah turut beradaptasi dengan kelahiran bayi terlihat lebih menaruh perasaan positif tentang kelahiran dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan kontak dini dan interaksi yang berulang dengan bayi.
b)   Struktur keluarga dan identifitasi jenis kelamin
Organisasi keluarga dan jenis kelamin anak akan mempengaruhi hubungan alami antara ayah dengan bayi baru lahir. Keluarga yang ibu dan ayahnya bekerja menyebabkan sulitnya hubungan  dengan bayi.
c)    Tingkat kemampuan dan penampilan
Penampilan peran setelah kelahiran bayi akan meningkatkan ikatan kasih sayang antara ayah dan bayi. Ayah cenderung untuk berperan dalam memberikan inisiatif permainan dan interaksi sosial. Keterlibatan ayah memberikan kebahagiaan dan perhatian penuh bagi bayi.
d)   Latar belakang kultural
Hubungan ayah dan bayi dipengaruhi oleh penerimaan, kontak mata dan sentuhan. Kelahiran bayi  dapat meningkatkan harga diri bagi ayah.
5)   Adaptasi Sibling
Kehadiran bayi baru lahir dapat menyebabkan sibling merasa kecewa, frustasi, marah dan tidak dicintai. Reaksi anak yang lebih tua terhadap kehadiran bayi baru dipengaruhi oleh kelahiran, posisi anak yang lainnya perbedaan usia dan jenis kelamin. Reaksi anak yang lebih tua yang ditunjukkan pada bayi baru diantaranya :
a)    Anak tertua mempertahankan posisinya sebagai pemimpin.
b)   Anak lebih tua dengan terus terang menghalamngi interaksi orangtua dengan bayi.
c)    Anak usia 3 tahun mendorong ibu untuk meletakkan bayi diluar.
Untuk menanggulangi adaptasi sibling, orang tua mempunyai kewajiban yaitu membuat anak yang lebih tua mencintai dan menginginkan bayi dengan :
a)    Mengurangi perasaan bahwa anak yang lebih tua tidak diperhatikan.
b)   Mengembangkan perasaan yakin akan kemampuan memelihara anak yang lebih dari satu.
c)    Menyesuaikan waktu dan sikap terhadap bayi baru .
d)   Memonitor tingkah laku anak yang lebih tua terhadap kemungkinan tingkah laku agresif dan lebih mudah menyerang bayi.
6)   Adaptasi Kakek Nenek
Keterlibatan kakek-nenek terhadap perawatan bayi dipengaruhi oleh faktor keinginan untuk terlibat dan menjalin kedekatan hubungan kultural yang dianut oleh kakek nenek. Kakek-nenek biasanya  menunjukkan prilaku untuk membantu orang tua setelah kelahiran bayi diantaranya :
a)    Menentukan aktivitas orang tua termasuk dalam perawatan bayi
b)   Merawat rumah saat ibu sibuk dengan bayi
c)    Memberi perhatian pada anak lain
d)   Menjadi tempat bertanya orangtua tentang perawatan bayi dan ibu pada periode post partum
e)    Peran aktif kakek-nenek akan meningkatkan ikatan kasih sayang dengan anak.
e.    Proses Laktasi dan Menyusui
Laktasi terjadi di bawah pengaruh berbagai kelenjar endokrin, terutama hormon-hormon hipofisis prolaktin dan oksitosin. Keadaan ini dipengaruhi oleh isapan bayi dan emosi ibu. Laktasi pada manusia dipertahankan oleh sekurang-kurangnya empat faktor:
1)   Struktur anatomi kelenjar mamae dan perkembangan alveoli, duktus, dan puting
2)   Inisiasi dan sekresi usus
3)   Ejekasi susu atau propulsi susu dari alveoli ke puting
4)   Pengeluaran susu dari payudara secara reguler dan efisien
Gambar 2.2
Anatomi Payudara
Menyusui tergantung pada gabungan kerja hormon, refleks, dan perilaku yang dipelajari ibu dan bayi baru lahir dan terdiri dari faktor-faktor berikut ini:
1)   Laktogenesis. Laktogenesis (permulaan produksi susu) dimulai pada tahap akhir kehamilan. Kolostrum disekresi akibat stimulasi sel-sel alveolar mamaria oleh laktogen plasenta, suatu substansi yang menyerupai prolaktin. Produksi susu berlanjut setelah bayi lahir sebagai proses otomatis selama susu dikeluarkan dari payudara.
2)   Produksi susu. Kelanjutan sekresi susu terutama berkaitan dengan jumlah produksi hormon prolaktin yang cukup di hipofisis anterior dan pengeluaran susu yang efisien. Nutrisi maternal dan masukan cairan merupakan faktor yang mempengaruhi jumlah dan kualitas susu.
3)   Ejeksi susu. Pergerakan susu dari alveoli (dimana susu disekresi oleh suatu proses ekstrusi dari sel) ke mulut bayi merupakan proses yang aktif di dalam payudara. Proses ini tergantung pada refleks let-down atau refleks ejeksi susu. Refleks let-down secara primer merupakan respons terhadap isapan bayi. Isapan menstimulasi kelenjar hipofisis posterior untuk menyekresi oksitosin. Di bawah pengaruh oksitosin, sel-sel disekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui sistem duktus ke dalam mulut bayi.
4)   Kolostrum. Kolostrum kuning kental secara unik sesuai untuk kebutuhan bayi baru lahir. Kolostrum mengandung antibodi vital dan nutrisi padat dalam volume kecil, sesuai sekali untuk makanan awal bayi. Menyusui dini yang efisien berkolerasi dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar protein yang tinggi di dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif kolostrum untuk mempermudah perjalanan mekonium. Kolostrum secara bertahap berubah menjadi susu ibu antara hari ketiga dan kelima masa nifas.
5)   Susu ibu. Pada awal setiap peemberian makan, susu pendahulu mengandung lebih sedikit lemak dan mengalir lebih cepat daripada susu yang keluar pada bagian akhir menyusui.
Tiga refleks maternal utama sewaktu menyusui ialah sekresi prolaktin, ereksi puting susu, dan refleks let-down. Prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. Stimulus isapan bayi mengirim pesan ke hipotalamus yang merangsang hipofisis anterior untuk melepas prolaktin, suatu hormon yang meningkatkan produksi susu oleh sel-sel alveolar kelenjar mamaria. Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas, dan lama bayi mengisap.
Stimulus puting susu oleh mulut bayi menyebabkan ereksi. Refleks ereksi puting susu ini membantu propulasi susu melalui sinus-sinus laktiferus ke pori-pori puting susu.
Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu akibat terjadi refleks let-down. Akibat stimulus isapan, hipotalamus melepas oksitosin dari hipofisis posterior. Stimulasi oksitosin membuat sel-sel mioepitel di sekitar alveoli di dalam kelenjar mamaria berkontraksi. Kontraksi sel-sel yang menyerupai otot ini menyebabkan susu keluar melalui sistem duktus dan masuk ke dalam sinus-sinus laktiferus, dimana susu tersedia untuk bayi.
Refleks let-down dapat dirasakan sebagai sensasi kesemutan atau, dapat juga ibu tidak merasakan sensasi apapun. Tanda-tanda lain let-down adalah tetesan susu dari payudara sebelum bayi mulai memperoleh susu dari payudara ibu dan susu menetes dari payudara lain yang tidak sedang diisap oleh bayi. Kram uterus selama menyusui disebabkan oleh kerja oksitosin terhadap uterus dan peningkatan perdarahan per vaginam selama atau sesaat setelah menyusui. Peningkatan rasa haus juga merupakan tanda bahwa proses menyusui berlangsung baik.  
Tabel 2.1
Komposisi ASI
Konstituen
Susu Manusia %
Susu Sapi %
Air
88,5
87,0
Lemak
3,3
3,5
Laktosa
6,8
4,8
Kasein
0,9
2,7
Laktalbumin dan protein lain
0,4
0,7
Abu
0,2
0,7
                    (Guyton, 2008)

0 komentar:

Posting Komentar