Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Ketuban Pecah Dini

Konsep Dasar Ketuban Pecah Dini
a.    Definisi Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya/ rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi.
Ketuban Pecah Dini (KPD) didefinisikan sebagi pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
b.    Tanda-Tanda Ketuban Pecah Dini
Ibu biasanya datang dengan keluhan utama keluarnya cairan amnion/ ketuban melewati vagina. Selanjutnya jika masa laten panjang, dapat terjadi korioamnionitis. Untuk mengetahui bahwa telah terjadi infeksi ini adalah mula-mula dengan terjadinya takikardi pada janin. Takikardi pada ibu muncul kemudian, ketika ibu mulai demam. Jika ibu demam, maka diagnosis korioamnionitis dapat ditegakkan dan diperkuat dengan terlihat adanya pus dan bau pada sekret.
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk dan berdiri, kepala janin yag sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.  


c.    Penyebab Ketuban Pecah Dini
Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas. Akan tetapi, ada beberapa keadaan yang berhubungan dengan terjadinya KPD ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
1)   Trauma: amniosintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual
2)   Peningkatan tekanan intrauterus, kehamilan kembar, atau polihidromnion
3)   Infeksi vagina, serviks atau korioamnionitis streptokokus, serta bakteri vagina
4)   Selaput amnion yang mempunyai struktur yang lemah/ selaput terlalu tipis
5)   Keadaan abnormal dari fetus seperti malpresentasi
6)   Kelainan pada serviks atau alat genitalia seperti ukuran serviks yang pendek (< 25 cm)
7)   Multipara dan peningkatan usia ibu
8)   Defisiensi nutrisi
d.   Komplikasi Ketuban Pecah Dini
Kompilikasi pada KPD antara lain dapat menyebabkan: infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterine; persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm; komplikasi pada ibu mencakup peningkatan kejadian persalinan melalui bedah caesar (akibat malpresentasi, Prolaps tali pusat), infeksi intramnion (15-30%) dan endometritis pasca persalinan; gawat janin dan kematian jain akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang); Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
e.    Jenis dan Penatalaksanaan KPD
1)   KPD saat preterm (< 37 mg): Insidensi 2-4% dari kehamilan tunggal dan 7-10% dari kehamilan kembar. KPD < 32 minggu tatalaksana mencakup: obat abtibiotik untuk kultur servikovaginal (+), pembatasan aktivitas, pemantauan infeksi, pemeriksaan janin secara reguler, pemeriksaan Ultrasonografi (USG) secara teratur per 3-4 minggu, tes lakmus (tes nitrasin) lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya cairan ketuban (alkalis). KPD 32-34 minggu tatalaksana observasi mencakup pemberian antibiotik untuk memperpanjang masa laten pengobatan kortikosteroid antenatal. KPD > 34 minggu: penentuan pematangan paru-paru janin.
2)   KPD saat aterm (> 37 mg): Insidensi 8-10% dari kehamilan cukup bulan: tatalaksana KPD aterm: tidak ada kontraindikasi terhadap tatalaksana observasi seperti gawat janin, perdarahan pervaginam tanpa diketahui penyebabnya, proses melahirkan aktif, koriamnionitis. Segera induksi dengan atau tanpa pematangan servik.

0 komentar:

Posting Komentar