Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Perawatan Kulit Pada Lansia


 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Struktur kulit
Struktur kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis merupakan lapisan terluar, dan aksesori-aksesorinya(rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ektoderm embrio. Dermis berasal dari mesoderm. Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi pelindung, sekresi, ekskresi, pengatur temperatur, dan sensasi. Kulit memiliki tiga lapisan utama: epidermis, dermis, dan subkutan ( Perry & Potter, 2005)
1.    Epidermis
Epidermis merupakan epitel gepeng (skuamosa) berlapis, dengan beberapa lapisan yang terlihat jelas. Jenis sel yang utama disebut ‘keratinosit’.
Kelengkapan (aksesori) epidermis:
a.    Kelenjar keringat ekrin, Kelenjar keringat ekrin penting dalam pengaturan suhu tubuh.
b.    Kelenjar keringat apokrin, Kelenjar keringat apokrin terutama banyak ditemukan di daerah aksila dan anogenital.
c.    Rambut, Rambut tumbuh dari invaginasi tubular pada epidermis yang disebut folikel, dan folikel rambut beserta kelenjarsebasea disebut sebagai ‘unit pilosebasea’.
d.   Kelenjar sebasea, Kelenjar sebasea terdapat di setiap tempat pada kulit mulai dari tangan sampai kaki.
e.    Kuku, Kuku merupakan lempengan keratin transparan yang berasal dari invaginasi epidermis pada dorsum falang terakhir dari jari.
2.    Dermis
Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang terletak dibawah epidermis, dan merupakan bagian terbesar dari kulit. Dermis dan epidermis saling mengikat melalui penonjolan-penonjolan epidermis kebawah (rete ridge) dan penonjolan-penonjolan ke atas (dermal papillae).
3.    Dermatoglifik
Sidik jari, yaitu pola guratan-guratan menonjol yang khas pada ujung jari manusia, bersifat unik bagi setiap individu. Jari tangan dan kaki, serta telapak tangan dan kaki,dipenuhi oleh guratan-guratan tersebut.

B.  Fungsi Kulit
Dari struktur kulit yang sedemikian rumit, jelas bahwa mempertahankan seluruh bagian tubuh bukanlah satu-satunya fungsi kulit. Beberapa fungsi kulit adalah sebagai berikut:
1.    Mencegah terjadinya kehilangan cairan tubuh yang essensial.
2.    Melindungi dari masuknya zat-zat kimia beracun dari lingkungan dan mikroorganisme.
3.    Fungsi-fungsi imunologis melindungi dari kerusakan akibat radiasi UV.
4.    Mengatur suhu tubuh
5.    Sintesis vitamin D
6.    Berperan penting dalam daya tarik seksual dan interaksi sosial.

C.  Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Perubahan pada kulit lansia, bisa bersifat histologik, fisiologik maupun klinik dan terjadi karena proses penuaan, baik bersifat instriksik, maupun ekstrinsik. Perubahan tersebut antara lain bentuk dan ukuran sel, menurunya melanosit, penurunan jumlah sel langerhans. Dermis mengalami penurunan jumlah sel, vaskularisasi berkurang, hilangnya fungsi elastisitas, yang berakibat banyak terjadi kerutan.
Demikian juga saraf, mikrosirkulasi serta kelenjar keringat mengalami penurunan secara gradular, yang merupakan predisposisi untuk terjadinya penurunan termolegurasi, sensitivitas terhadap panas. Kuku mengalami penurunan kecepatan pertumbuhan, dengan terjadinya penipisan pada lempengan kuku, serta terjadinya kerapuhan dan keretakan kelenjar lemak subkutan mengalami atrofi, misalnya pada pipi, ekstremitas bagian distal, tetapi terjadi hipertrofi pada paha wanita dan perut pada pria.
1.    Karakteristik Kulit Menua
a.        Kulit Kering, Kasar dan Bersisik
Kulit kering, merupakan kelainan kulit yang terjadi hampir 75% lansia diatas 64 tahun. Kulit tampak kering, bersisik, warna lebih gelap, keabu-abuan dan nampak suram. Kekeringan ini terjadi akibat menurunya hormon, menurunya fungsi kelemjar sebasea, berkurangnya jumlah dan fungsi kelenjar keringat, berkurangnya kadar air dalam epidermis serta paparan sinar matahari yang terlalu lama.
Kulit kasar dan bersisik timbul akibat proses keratinisasi serta perubahan ukuran sel –sel epidermis dimana stratum mudah lepas dan cenderung untuk mati dan melekat satu sama lain pada permukaan kulit.
b.        Kulit Berkerut dan Kendor
Kulit kendor / menggelantung dengan kerutan – kerutan dan garis kulit lebih jelas . Hal ini disebabkan karena :
·           Penurunan jumlah fibroblast yang menyebabkan penurunan jumlah serat elastin lebih sklerotik dan menebal sehingga jaringan kolagen menjadi kendor dan serabut elastin kehilangan daya lenturnya, kulit menjadi kendor dan kurang lentur,
·           Tulang dan otot menjadi atrofi, jaringan lemak subkutan berkurang, lapisan, kulit tipis serta kehilangan daya kenyalnya sehingga terbentuk kerutan – kerutan dan garis – garis kulit.
·           Kontraksi otot – otot mimik yang tidak diikuti oleh kontraksi kulit yang sesuai sehingga mengakibatkan alur – alur keriput di daerah wajah.  
c.         Gangguan Pigmentasi Pada Kulit
Hal ini disebabkan perubahan – perubahan pada distribusi pigmen melanin dan proliferasi melanosit, serta fungsi melanosit menurun sehingga penumpukan melanin tidak teratur dalam sel – sel basal epidermis.
Disamping itu epidermimal turn over menurun sehingga lapisan sel – sel kulit mempunyai banyak waktu untuk menyerap melanin yang mengakibatkan terjadinya bercak – bercak pigmentasi pada kulit.
d.        Perubahan Rambut dan Kuku
Rambut :
·         Pertumbuhan menjadi lambat, lebih halus dan jumlahnya lebih sedikit.
·         Rambut pada alis, lubang hidung dan wajah sering tumbuh lebih panjang.
·         Rambut memutih.
·         Rambut banyak yang rontok.
Kuku :
·      Pertumbuhan kuku lebih lambat, kecepatan pertumbuhan menurun 30 – 50 % dari orang dewasa.
·      Kuku menjadi pudar, kurang bercahaya dan rapuh.
·      Warna kuku agak kekuningan.
·      Kuku menjadi tebal dan keras.
·      Garis – garis kuku longitudinal tampak lebih jelas. Kelainan ini di laporkan terdapat pada 67 % lansia berusia 70 tahun.

D.  Kelainan Kulit Pada Lansia
1.  Ulkus dekubitus ( Norman NA, 2003 )
Ulkus dekubitus sering di dapatkan pada lansia, khususnya penderita dengan resiko tinggi, misalnya kelumpuhan total ( tetraplegi ), penderita kanker stadium akhir, diabetes, penderita ginjal tahap akhir, penderita penyakit hati dan jantung, fraktur femor, imunosupresi, inkontinensia, status mental menurun, malnutrisi, mobilitas yang kurang. Ulkus ini umumnya terjadi di atas tulang yang menonjol. Adanya tekanan kronis menyebabkan iskemia dan berakibat kerusakan jaringan.


Ulkus dekubitus terjadi melalui beberapa stadium :
·      Stadium 1 : Kemerahan yang menetap pada kulit yang masih utuh.
·      Stadium 2 : Nekrosis superfisialis atau separo ketebalan epidermis –dermis.
·      Stadium 3 : Nekrosis yang lebih dalam, hilangnya seluruh kedalaman kulit dan meluas sampai dalam, namun belum melalui fasia.
·      Stadium 4 : Nekrosis yang meluas masuk melewati fasia, bisa sampai otot, tulang dan struktur jaringan penopang lain.
2.    Dermatitis eksema
Bentuk – bentuk dermatitis eksema yang sering terjadi pada lansia :
·      Eksema nummuler, yang ditandai dengan lesi berbentuk uang logam, disertai rasa gatal, biasanya terlihat pada tungkai bawah, ekstremitas atas, punggung tangan dan badan. Pengobatan dengan pemberian kortikosteroid topikal, dengan kekuatan sedang sampai kuat serta emolien. Untuk infeksi sekunder diberikan antibiotika sistemik, misalnya sefaleksin, dikloksasilin.
·      Dermatitis statis. Terjadinya akibat insufisiensi vena, odem pada pedis, serta varises. Pada kulit terlihat kecoklatan akibat disposisi hemosiderin. Kulit mudah terjadi ulserasi maupun selulitis. Eksaserbasi akut terhadap kelainan ini bisa menimbulkan autosensitisasi yang berakibat munculnya lesi papulovesikuler akut yang menyebar ke seluruh tubuh, sering bersifat simetris.
·      Dermatitis seboroik, dalam bentuk kulit yang kering, kemerahan, bersisik pada kulit kepala, muka badan, atau regio anogenital. Sistim syaraf pusat mempunyai peran penting terhadap keparahan penyakit ini. Penyakit parkinson, kuadriplegia, stres emosional. Pityrosporum ovale juga berperan pada kelainan ini.
·      Dermatitis kontak. Dermatitis kontak bisa bersifat iritan maupun alergika. Pada dermatitis kontak iritan ( DKI ), semua bagian tubuh yang terbuka bisa terkena ( hand eczema ) sabun dan detergen merupakan iritan terbanyak, disamping bahan – bahan lain, misalnya pemberesih
( lisol ), pelarut, pemutih. DKI bisa terjadi pada semua orang, sedangkan dermatitis kontak alergika ( DKA ) hanya terjadi pada orang – orang tertentu. Pada DKA biasanya lesi kemerahan, disertai papul atau vesikel, dan biasanya ada riwayat kontak dengan bahan – bahan tertentu. DKA pada lansia sedikit berbeda dengan penderita yang muda. Erupsi biasanya kurang meradang, rasa gatal lebih kurang tetapi berlangsung lama. Hal ini disebabkan karena respon imun seluler yang menurun. Keadaan ini akan menyebabkan kesulitan dalam membedakan DKA dan DKI pada lansia.
·      Liken simpleks kronikus ( neurodermatitis ) Kelainan ini ditandai oleh plaket yang menebal, karena terjadinya likenifikasi, gatal, lokasi terbatas dan perjalanan penyakit kronis.Paling sering ditemukan pada daerah pergelangan kaki, tetapi dapat juga timbul dibagian lain. Kelainan ini disebabkan kebiasaan menggosok kulit. Paling sering ditemukan pada usia diatas 60 tahun. Biasanya lesi hanya satu dan daerah predileksinya pada wanita, labia mayora dan tengkuk sedangkan pria daerah perineum dan skrotum. Daerah lain sering terkena adalah pergelangan tangan dan tungkai bawah. Faktor perdisposisinya adalah atopi dan kulit xerotik dimana kelainan ini berhubungan dengan gatal yang kemudian berlanjut dengan siklus gatal – garuk.
·      Eksema asteatotik ( eczema craquele ) Merupakan jenis eksema yang banyak dijumpai pada usia lanjut, akibat kulit yang kering dan umunya dijumpai pada ekstremitas bawah. Pada penampakan terlihat kulit yang kering dengan skuama yang lebar, agak kemerahan, dengan suatu gambaran yang di sebut  “ crazy paving “. Hal ini disebabkan hilangnya lubrikasi epidermis. Untuk keadaan ini di perlukan emolien atau pelembab, yang digunakan secara teratur. Pemberian kortikosteroid sebisa mungkin dihindari, mengingat latar belakang kulit yang sudah menipis dan mudah “ Retak”.


E.  Perawatan Kulit Pada Lansia
Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh dan merupakan protektor terhadap stimuli dari luar yang berbahaya dan invasi kuman. Oleh karena perawatan kulit sangat penting sekali, apalagi pada lansia, fungsi – fungsi kulit maupun struktur kulit mengalami perubahan. Hal terpenting dalam perawatan kulit pada lansia.
1.    Kebersihan
Kulit diseluruh bagian tubuh harus terjaga keberesihannya, termasuk bebas dari basah karena keringetan, karena akan mengundang infeksi jamur.
2.    Mengurangi kekeringan dan gatal
Dengan adanya penuaan, maka sekresi minyak dari kulit berkurang, dan akan menyebabkan kulit kering dan gatal. Garukan ataupun menggunakan air panas, akan memperberatkan keadaan. Apabila kering kulit mudah pecah pecah dan akan menimbulkan infeksi. Untuk mengelola kulit adalah memberikan pelembab berkali – kali. Gatal juga akan terpicu dengan penggunaan pakaian dari wool, oleh karenannya perlu memilih pakaian yang sesuai. Gunakan pakaian katun yang lembut. Penderita lebih merasa enak dengan piyama tipis.
3.    Mandi
Air panas akan menghilangkan minyak pada kulit yang masih ada oleh karenanya pada lansia hanya boleh menggunakan air hangat, dan menghindari pembersihan yang berlebihan, oleh karena justru akan menimbulkan rasa gatal, dan berubah menjadi bath itch, dimana pada kulit di dapatkan bintik – bintik merah. Banyak yang menganjurkan mandi cukup 3 kali seminggu ( mungkin untuk orang barat ). Penggunaan sabun di anjurkan hanya pada tempat – tempat tertentu saja, bagian tubuh lainnya hanya di bersihkan dengan air hangat saja.
4.    Menjaga lingkungan
Suasana lingkungan harus di sesuaikan. Bila memungkinkan jagalah kelembaban ruang tidur atau ruangan lain di rumah dengan memasang humidifier. Perubahan temperatur secara tiba – tiba harus dihindarkan.
Untuk menjaga kulit tetap lembab setelah mandi gunakan pelembab. Dalam memilih kosmetika pada umumnya sama seperti penggunaan kosmetik untuk kulit kering, yaitu:
a.    Pembersih dengan bahan dasar minyak ( cleansing cream, cold cream ), sabun lunak misalnya Oilatum dua kali seminggu.
b.    Pelembab, Pelembab yang membuat lapisan lemak tipis pada permukaan kulit untuk mencegah penguapan air dari kulit sehingga dapat mempertahankan kelembaban yang masih ada misalnya krim pelembab yang mengandung minyak nabati, seperti minyak wijen, minyak zaitun atau krim emolien yang mengandung polyyunsanturated fatty acid dan unsur lemak lainnya ( nourishing cream, night cream, day cream, emolient cream, dll ). Pelembab yang mengandung bahan – bahan hidrofilik, merupakan bahan topikal yang mempunyai efekifitas melembabkan yang tinggi karena dapat meningkatkan penyerapan air ke dalam kulit seperti krim yang mengandung asam laktat 2 – 5 % urea 2 – 10 %, alantoin. Preparat topikal yang mengandung vitamin E bermanfaat karena vitamin E yang larut dalam lemak dapat penetrasi ke dalam kulit dengan efek berikut :
·      Meningkatkan kelembaban kulit
·      Sebagai anti oksidan yang menekan pembentukan radikal bebas sehingga menghabat kerusakan sel – sel kulit.
·      Melindungi kulit terhadap kerusakan yang di sebabkan sinar UV dengan cara menurunkan kadar ornithine decarboxylase di dalam kulit.

1 komentar:

Monica Widjaja mengatakan...

tolong krim apa buat lansia pake diaper ? terima kasih

Posting Komentar