Feeds RSS

Minggu, 26 Januari 2014

Mobili pada Anak


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    KONSEP DASAR TEORI
1.      Definisi
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi (Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000).
Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu stadium katar, stadium erupsi, dan stadium konvalen. Biasanya penyakit ini timbul pada kanak-kanak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. (Ngastiyah, 2005).
Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium prodormal (kataral), stadium erupsi, dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis, dan bercak koplik (Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI). Morbili merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian morbili dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa morbili merupakan penyakit virus akut yang menular biasanya terjadi pada anak-anak dan menyebabkan kekebalan seumur hidup yang ditandai dengan 3 stadium yaitu stadium prodormal (katar), stadium erupsi, dan stadium konvalen yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis, dan bercak koplik.
2.      Etiologi
Penyakit morbili atau campak disebabkan oleh virus campak. Virus campak termasuk di dalam famili paramyxovirus yang merupakan virus single sranded RNA. Di dalam virus terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA). Selubung luar merupakan suatu protein yang bersifat hemagglutinin.
Virus ini sangat sensitive terhadap panas dan dingin dan dapat diinaktifkan pada suhu 300C dan -200C, sinar ultraviolet, eter, tripsin, dan betapropiolakton sedang formalin dapat memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen (Rampengan,T.h.,1993). Virus morbili dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus, perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multi nucleus dengan 1 neklusi intra nuclear. Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul. (Richard E. Berhman, 1999).
Virus tersebut dapat ditemukan dalam darah, urin, sereksi naso faring pada masa prodromal. Pada suhu ruangan virus tersebut tetap aktif selama 24 jam. Cara penularannya adalah dengan droplet infeksi.
3.      Patofisiologi
Perjalanan klinik diawali dengan infeksi epithel saluran napas bagian atas oleh virus, menyebar ke kelenjar lympha regional bersama makrofag. Setelah mengalami replikasi dikelenjar limfa regional, virus dilepas kedalam aliran darah, terjadilah viremia pertama. Sampailah virus ke sistem reticuloendothelial, dan disusul dengan proses replikasi. Viremia yg kedua akan mengantar virus sampai ke “multiple tissue site“, terjadilah proses infeksi di endothelium pembuluh darah, epithelium saluran napas, dan saluran cerna. Virus menempel pada receptor virus campak pada tempat tertentu, misalnya pada lapisan lendir saluran nafas, sel otak, dan usus.
Setelah inkubasi selama 10-11 hari, dalam 24 jam kemudian munculah gejala coryza/ pilek, conjunctivitis/ radang mata, dan cough/ batuk sebagai gejala periode prodromal. Semua gejala diatas makin hari makin memberat, mencapai puncaknya pada periode erupsi, saat mulai muncul ruam pada hari ke 4 sakit, koplik’s spot, bercak putih di depan M1 yang terletak di mukosa pipi, akan muncul dan menjadi tanda klinik yang pathognomonik.
Gejala panas, cough, coryza, dan conjunctivitis pada hari ke 4 akan disusul dengan keluarnya ruam erythro makulopapuler dengan perjalanan dan penyebaran yang khas, sehingga diagnosis klinik mudah dikenali. Periode konvalescence ditandai dengan tersebarnya ruam pada seluruh tubuh, yang disertai turunnya temperatur tubuh secara lisis. Panas pada penyakit campak bersifat “stepwise increase“, yang puncak panasnya terjadi pada hari ke 5 sakit, dan pada hari ke 6 sakit, bilamana ruam sudah tersebar pada seluruh tubuh, panas akan menurun dan kondisi klinik akan membaik.
Coryza awalnya bersin-bersin, disusul dengan hidung buntu, disertai ingus yang mukopurulen, menjadi makin berat saat ruam mulai muncul, akan tetapi segera hilang pada waktu temperatur normal, yaitu pada saat ruam sudah menyebar keseluruh tubuh. Conjunctivitis dimulai dengan adanya “conjunctival injection“ dari palpebra bawah, disusul dengan keradangan pada conjunctiva, edema palpebra, peningkatan lakrimasi dan photopobia. Pada penderita anak dengan malnutrisi yang disertai defisiensi vitamin A, manifestasi klinik conjunctivitis tampil lebih berat, dan dapat terjadi keratitis, infeksi kornea, ulcus cornea, yang apabila tidak tertangani secara benar dapat berakibat kebutaan. Batuk yang timbulnya pada periode prodromal, makin hari makin memberat, mencapai puncaknya pada saat erupsi keluar. Gejala batuk ini bertahan agak lama, bahkan ada yang berlangsung sampai beberapa minggu, terutama yang disertai dengan bronkopneumonia.
Ruam penyakit campak adalah erythromaculopapular, muncul 3-4 hari panas, mulai dari perbatasan rambut kepala, dahi, belakang telinga, kemudian menyebar ke muka, leher, tubuh, extremitas atas, terus kebawah, dan mencapai ujung kaki pada pada hari ke 3 ruam muncul. Setelah ruam sudah menyebar keseluruh tubuh, maka ruam awal akan mengabur, disusul dengan munculnya hiperpigmentasi dan desquamasi. Urutan lokasi terjadinya fade-hiperpigmentasi-desquamasi, sama dengan urutan lokasi terjadinya ruam erythro maculopapular. Gejala lain yang dapat dijumpai pada penyakit campak adalah, gastroenteritis, lympadenopathy generalisata, laryngotracheitis, bronchitis, dan pneumonitis dan pada anak dengan malnutisi dapat disertai pneumothorax spontan, protein losing enteropathy, dan gizi buruk atau aktifasi dari proses tuberkulosis. Apabila natural time table ini melenceng, maka dicurigai adanya komplikasi, baik karena infeksi virus maupun infeksi kuman.
4.      Pathway (terlampir)

5.      Manifestasi Klinis
Masa tunas/ inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium:
a.       Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringan hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia, dan konjungtivitis. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
b.      Stadium erupsi
Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eritema/ titik merah di palatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung, dan traktus digestivus.
c.       Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.
6.      Akibat/ Komplikasi
Akibat/ komplikasi pada penyakit morbili yaitu sebagai berikut:
a.       Komplikasi Akut
1)        Pneumonia merupakan penyebab kematian pertama dari morbili karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi sekunder. Secara klinis manifestasinya dapat berupa bronkhiolitis, Bronkopneumonia, dan Pneumonia Lobaris. Bakteri yang sering menimbulkan Pneumonia pada Morbili adalah Streptococus, Pneumococus, Stafilococus, Haemofilus, Influenza, dan kadang-kadang dapat disebabkan oleh Pseudomanas dan Klebsiela. Komplikasi ini harus dicurigai bila anak dengan morbili menunjukkan adanya gangguan pernafasan disertai panas yang menetap.
2)        Gastroenteritis
3)        Enchefalitis merupakan komplikasi yang berat dan sering menyebabkan kematian dan biasanya timbul pada hari ke-2 sampai ke-6 sampai timbulnnya rash. Patogenesis komplikasi ini masih belum diketahui secara pasti, beberapa dugaan seperti akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten atau Ensefalomielitis tipe alergi. Gejalanya berupa panas, sakit kepala, muntah, lemah, kejang, koma atau kelemahan umum. Perjalanan penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai yang berat dan berakhir dengan kematian dalam 24 jam.
4)        Otitismedia
5)        Mastoiditis
6)        Laring otrakeobonkhitis
7)        Cervical adenitis
8)        Purpura Trombositopenik
9)        Aktivasi Tuberculosis
10)    Ulcus Kornea
b.      Komplikasi Kronik
1)      SSPE (subakut sklerosing panensefalitis) merupakan kelainan
2)      Kebutaan
3)      Malnutrisi, terjadi akibat intake yang kurang (anoreksia, muntah).
7.      Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas, pemeriksaan serologi, isolasi virus dari urine atau swab nasofaringeal. Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya lekopeni, dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells. Pemeriksaan serologi dengan ELISA IgM lebih sensitif bila diperiksa antara hari ke-3 sampai hari ke-28 timbulnya rash.
Pada pemeriksaan serologi dengan cara heglutinin inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibodi yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. Tes ini cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik dan subklinik.
8.      Penatalaksanaan
Pengobatan campak umumnya ringan, self limited, tidak tersedia anti viral spesifik, antibiotika tidak mempengaruhi perjalanan klinik penyakit, sehingga pengobatan campak adalah suportif. Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada penyakit campak yang berat dan disertai malnutrisi, akan mempercepat penyembuhan pneumonia dan gastroenteritis, memperpendek lama tinggal di rumah sakit, menurunkan angka kematian. Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik. Imunisasi campak dilakukan pada semua anak usia 9 bulan, 15 bulan dan 6 tahun .

B.     KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN MORBILI
Proses keperawatan adalah kegiatan yang berurutan dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah klien, membuat perencaan untuk mengatasinya pelaksanaan rencana dan mengevaluasi keberhasilann secara efektif terhadap masalah yang diatasinya.
Proses keperawatan pada dasarnya adalah metode pelaksanaan asuhan keperawatan yang sistematis yang berfokus pada respon manusia secara individu, kelompoak dan masyarakat terhadapat perubahan kesehatan baik aktual maupun potensial.
1.      Pengkajian
a.       Identitas diri
b.      Keluhan utama: Panas
c.       Riwayat penyakit sekarang, demam ringan hingga sedang, mencapai puncak hari ke 5 sampai 390C-400C. Pada bayi/ anak kecil disertai kejang demam.
d.      Riwayat Imunisasi
e.       Kontak dengan orang yang terinfeksi
f.       Pemeriksaan Fisik:
1)      Mata: terdapat konjungtivitis dan fotophobia
2)      Kepala: sakit kepala
3)      Hidung: Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/ koriza, dan perdarahan hidung (pada stad eripsi).
4)      Mulut & bibir: Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, dan mulut terasa pahit.
5)      Kulit: Permukaan kulit (kering), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, dan panas (demam).
6)      Pernafasan: Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum.
7)      Tumbuh Kembang: BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
8)      Pola Defekasi: BAK, BAB, Diare
9)      Status Nutrisi: intake-output makanan, nafsu makanan
g.      Keadaan Umum: Kesadaran, TTV
h.      Pemeriksaan penunjang, Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan leukopenia ringan.
2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada anak dengan morbili yaitu:
a.       Risiko infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi (organisme purulen)
b.      Nyeri akut berhubungan dengan lesi kulit, malaise
c.       Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dari teman sebaya
d.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunitas
e.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan
f.       Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan.
3.      Rencana Keperawatan
Tabel 2.1
Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.     Risiko infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi (organisme purulen)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... infeksi tidak terjadi, dengan kriteria hasil:
·   Anak yang rentan tidak mengalami penyakit.
·   Infeksi tidak menyebar
·   Anak tidak menunjukkan bukti-bukti komplikasi seperti infeksi dan dehidrasi.
       Identifikasi anak berisiko tinggi

       Lakukan rujukan ke perawat kesehatan masyarakat bila perlu.

       Pantau suhu



       Pertahankan higiene tubuh yang baik.

       Berikan serapan air sedikit tapi sering atau minuman kesukaan anak serta makanan halus atau lunak.
memastikan anak menghindari pemajanan

untuk memastikan prosedur yang tepat di rumah.


peningkatan suhu tubuh yang tidak diperkirakan dapat menandakan adanya infeksi.

untuk mengurangi resiko infeksi sekunder dari lesi

untuk menjamin hidrasi yang adekuat dan banyak anak-anak yang mengalami anoreksia selama sakit
2.     Nyeri akut berhubungan dengan lesi kulit, malaise
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... nyeri tidak terjadi/ berkurang, dengan kriteria hasil:
·   Kulit dan membran mukosa bersih dan bebas dari iritasi.
·   Anak menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan minimum.
       Gunakan vaporiser embun dingin, kumur-kumur, dan tablet isap.

       Bersihkan mata dengan larutan salin fisiologis

       Jaga agar anak tetap dingin.

       Berikan mandi air dingin dan berikan lotion seperti kalamin

       Berikan analgesik, antipiretik, dan antipruritus sesuai kebutuhan dan ketentuan.
untuk menjaga agar membran mukosa tetap lembab


untuk menghilangkan sekresi atau kusta

karena udara yang terlalu panas dapat meningkatkan rasa gatal.

untuk menurunkan rasa gatal



untuk mengurangi nyeri, menurunkan suhu tubuh, dan mengurangi rasa gatal
3.     Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan isolasi dengan teman sebaya
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... gangguan interaksi sosial tidak terjadi, dengan kriteria hasil:
·   Anak menunjukkan pemahaman tentang pembatasan
·   Anak melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi
       Jelaskan alasan untuk pengisolasian dan penggunaan kewaspadaan khusus.
       Biarkan anak memainkan sarung tangan dan masker

       Berikan aktivitas pengalihan

       Anjurkan orang tua untuk tetap bersama anak selama hospitalisasi.
       Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan terampilan fisik
untuk meningkatkan pemahaman anak tentang pembahasan.


untuk memfasilitasi koping positif.

untuk melakukan aktivitas yang tepat dan berinteraksi

untuk menurunkan perpisahan dan memberikan kedekatan.

untuk mendorong penerimaan teman sebaya
4.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunitas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... kerusakan integritas kulit tidak terjadi, dengan kriteria hasil:
·   Intregitas kulit yang baik dapat dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperature, hidrasi, pigmentasi )
·   Tidak ada luka atau lesi pada kulit
·   Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang
·   Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami
      Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih

      Pakailah sarung tangan atau restrein siku

      Berikan pakaian yang tipis, longgar, dan tidak mengiritasi
      Tutup area yang sakit (lengan panjang, celana panjang, pakaian satu lapis).
      Berikan lotion yang melembutkan (sedikit saja pada lesi terbuka)

      Hindari pemajanan panas atau sinar matahari.
untuk meminimalkan trauma dan infeksi sekunder

untuk mencegah penggarukan


karena panas yang berlebihan dapat meningkatkan rasa gatal.

untuk mencegah penggarukan



karena pada lesi terbuka absorpsi obat meningkat untuk menurunkan pruritus

menimbulkan ruam.
5.     Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... jalan nafas efektif, dengan kriteria hasil:
·   Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih atau jelas.
·   Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, misal: batuk efektif dan mengeluarkan sekret.

      Auskultasi bunyi napas



      Kaji atau pantau frekuensi pernapasan




      Catat adanya atau derajat dipsnoe




      Pertahankan polusi lingkungan minimun, misal ; debu, asap, dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
      Observasi karakteristik batuk
beberapa derajat spasma bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas

takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress atau adanya proses infeksi akut.

disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.

pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat menjadi
episode akut.



batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi.
6.     Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….... nutrisi seimbang, dengan kriteria hasil:
·  Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan nilai laboratorium normal.
·  Tidak mengalami tanda malnutrisi.
·  Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.
       Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

       Observasi dan catat masukan makanan pasien.

       Timbang berat badan tiap hari


       Berikan makanan sedikit dari frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan.

       Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus, dan gejala lain yang berhubungan.
mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.

mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan

mengevaluasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.

makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster.

gejala gastro intestinal dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

0 komentar:

Posting Komentar