Feeds RSS

Selasa, 19 Maret 2013

Makalah Filsafat: Proses dan Sarana Berpikir


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia merupakan makhluk yang berakal, akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan bahkan jin dan malaikat sekalipun. Dengan akal yang dimilikinya, manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan hidupnya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia mampu membuat peralatan-peralatan yang dapat meringankan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan manusia membuat peralatan bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan begitu saja, tetapi telah melalui proses pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui menjadi dasar bagi pembentukan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki inilah manusia dapat membuat peralatan-peralatan tersebut.
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman untuk membuat alat menyebabkan manusia terus mengembangkan pengetahuannya, untuk mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga alat. Dengan alat yang baik dimungkinkan manusia akan memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas berpikir yang benar.
Berpikir ilmiah dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya yang lebih luas, bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar atau pengetahuan ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia jelas memerlukan sarana atau alat berpikir ilmiah. Sarana ini bersifat pasti, maka aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah dan proses berpikir?
2.      Apakah sarana berpikir itu?
3.      Apakah itu logika?
4.      Bagaimana berpikir induktif?
5.      Bagaimana berpikir deduktif?


C.     TUJUAN
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai:
1.      Sejarah berpikir
2.      Proses berpikir
3.      Sarana berpikir
4.      Logika
5.      Berpikir induktif
6.      Berpikir deduktif

























BAB II
LANDASAN TEORI

A.    KONSEP DASAR PROSES DAN SARANA BERPIKIR
1.      Sejarah dan Proses Berpikir
1.1.Sejarah Berpikir
óOçFö7Å¡yssùr& $yJ¯Rr& öNä3»oYø)n=yz $ZWt7tã öNä3¯Rr&ur $uZøŠs9Î) Ÿw tbqãèy_öè? ÇÊÊÎÈ
“Apakah kalian tidak memikirkan bagaimana Kami menciptakan kalian? Dan sesungguhnya kalian akan kembali kepada Kami” (QS Al Mu’minuun: 115”
3 šÏ9ºxx. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbr㍩3xÿtFs? ÇËÊÒÈ
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian semua, agar kalian senantiasa berpikir”
Ayat di atas menjadi dasar pemikiran bahwa fitrah manusia pada dasarnya adalah berpikir dan bertanya tentang dirinya sendiri, tentang lingkungan, dan tentang Tuhannya. Bahkan Allah telah menjadikan berpikir adalah tugas yang tidak boleh dikesampingkan dalam menjalani hidup ini semata karena Allah telah memberikan gambaran nyata dalam hidup tentang apa yang akan kita nikmati untuk bekal kita kelak.
Seperti halnya membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia dalam kehidupan sehari-hari, manusia adakalanya pula menghabiskan waktunya secara sia-sia dengan terbawa oleh pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat.
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ   tûïÏ%©!$# öNèd Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd Ç`tã Èqøó¯=9$# šcqàÊ̍÷èãB ÇÌÈ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (QS. Al-Mukminun: 1-3) 
Allah mengajak manusia agar bersungguh-sungguh dalam masalah ini, masalah menikmati dunia dan akhiratnya. Sudah pasti bahwa perintah Allah di ayat tersebut juga berlaku dalam hal berpikir. Sebab pikiran-pikiran yang tidak terkendali akan terus-menerus mengalir dalam benak seseorang. Seseorang dengan sadar mengalihkan pikirannya dari satu hal ke hal lain. Ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, seseorang memikirkan rencana untuk berbelanja. Mendadak kemudian ia berpikir tentang hal lain, yakni apa-apa yang pernah dikatakan temannya satu atau dua tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terkontrol dan tidak berguna ini dapat berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Padahal, yang kuasa mengontrol pikiran-pikiran tersebut adalah dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang dapat memperbaiki keadaan dirinya; meningkatkan keimanan, kemampuan berpikir, perilaku; serta memperbaiki keadaan sekelilingnya.
Berpikir adalah cara khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Sehingga para kalangan ahli mantiq sangat masyhur istilah yang mendefinisikan manusia sebagai hayawan-natiq (hewan yang berpikir). Karena kemampuan berpikir itu pulalah manusia merupakan makhluk yang dimuliakan Allah SWT, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an:
* ôs)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%yuur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ
 "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak keturunan Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan." (Al-Israa': 70).
Bahkan, amanah kekhalifahan yang hanya diserahkan Allah kepada manusia (Adam) pun adalah karena faktor berpikir yang hanya dimiliki oleh manusia itu. Sebab, dengan kemampuan berpikir, manusia akan dapat menyerap ilmu pengetahuan dan mentransfernya untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Itulah beberapa dasar pemikiran perintah tentang berpikir dalam pandangan agama, bukan hanya secuil bahasan yang dibahas, namun mencakup segalanya, mulai dari sebelum kita dilahirkan hingga setelah akhir dari masa kita.
Berpikir secara umum adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski) pada diri manusia. (Suriasumantri, 52). Perkembangan ide  dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan dalam diri seseorang yang berupa pengertian-pengertian.
Berpikir mencakup banyak aktivitas mental. Manusia berpikir saat memutuskan barang apa yang akan dibeli di took, berpikir saat melamun sambil menunggu kuliah dimulai, berpikir saat mencoba memecahkan ujian, berpikir saat menulis artikel, makalah, surat, membaca buku, membaca koran, merencanakan liburan, atau menghawatirkan suatu persahabatan yang terganggu.
Berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan sesuatu yang menjadikan manusia tahu atau disebut juga sebagai suatu kegiatan yang melibatkan otak untuk bekerja. Simbol-simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya menggunakan kata-kata, gerakan atau bahasa. Namun, sebagian besar dalam berpikir orang kebanyakan lebih sering menggunakan bahasa atau verbal, karena bahasa merupakan alat penting dalam berpikir.
Dibawah ini adalah beberapa aliran-aliran yang mendefinisakan tentang berpikir, diantaranya adalah:
a.      Aliran psikologi asosiasi
Tokoh utama aliran psikologi asosiasi ini adalah John Lock (1632-1704) dan Herbart (1770-1841). Aliran psikologi asosiasi mengemukakan bahwa berpikir itu tidak lain dari jalannya tanggapan-tanggapan yang dilakukan oleh hukum asosiasi. Aliran ini berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting adalah terjadinya, tersimpannya dan bekerjanya suatu tanggapan-tanggapan.
b.      Aliran psikologi behaviorisme
Tokoh utama aliran psikologi behaviorisme ini adalah John Broades Watson (178-1958). Aliran psikologi behaviorisme mengemukakan pendapat bahwa berpikir adalah gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot-otot untuk bicara, seperti halnya bila kita mengucapkan “buah pikiran”. Intinya menurut aliran ini, berpikir adalah berbicara. Yang paling penting menurut aliran ini adalah kejadiannya berlangsung secara refleks. Dimana refleks adalah gerakan atau reaksi tak sadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar.


c.       Aliran psikologi gestalt
Aliran psikologi gestalt ini berpendapat bahwa proses berpikir seperti proses gejala-gejala psikis yang lain (merupakan suatu kebulatan). Psikologi gestalt memandang berpikir merupakan keaktifan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat diamati dengan panca indra.
Otak manusia memiliki kemampuan atau kapasitas yang sangat besar untuk belajar. Secara evolusi termasuk spesies yang memiliki kapasitas otak paling besar yaitu sekitar 1500 cc sehingga diberi nama Homo sapiens, sapiens artinya manusia yang cukup cerdas, penelitian yang dilakukan Jernigen menunjukan bahwa berat otak manusia mengalami penyusutan dari 1.500 gram menjadi 1.300 gram pada usia 60 tahun dan menjadi 1.100 gram pada usia 95 tahun.
Secara umum dapat dikatakan bahwa otak manusia berkuarang sekitar 10% sepanjang hidupnya setelah berakhir proses pertumbuhannya. Dengan kata lain otak manusia berkurang sekitar 1 gram setiap tahunnya. Perubahan ini terjadi pada perbandingan abu-abu (gray matter-substansia grisea) putih (white matter-substansia alba).
2.2.Proses Berpikir
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ   (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ   tA$s% ãPyŠ$t«¯»tƒ Nßg÷¥Î;/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ ( !$£Jn=sù Nèdr't6/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ tA$s% öNs9r& @è%r& öNä3©9 þÎoTÎ) ãNn=ôãr& |=øxî ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ãNn=÷ær&ur $tB tbrßö7è? $tBur öNçFYä. tbqãKçFõ3s? ÇÌÌÈ
"Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) itu seluruhnya, kemudian Allah mengajukannya kepada para malaikat sambil berkata, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang benar.' Mereka menjawab, 'Maha Suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.' Allah berfirman, 'Hai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya, Allah berfirman, 'Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu zahirkan dan yang kamu sembunyikan'." (Al-Baqarah: 31-33)
Perhatikanlah ayat di atas, maka akan kita peroleh sebuah kesimpulan kontekstual bahwa dalam ayat terbut terdapat percakapan antara Allah – Malaikat – Adam, yang membicarakan tentang beberapa hal yang menjadi pertanyaan Allah untuk dapat difikirkan dan dijawab oleh Adam. Sehingga secara kasar kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa dalam hal berpikir seperti yang dijelaskan di atas, komunikasi dan bahasa lah yang menjadi perantara utama. Kedua hal tersebut akan memberikan persepsi tentang subyek dan obyeknya. Diawali dengan adanya wahyu yang diberikan oleh Allah, kemudian akan muncul akal dan interpretasi rasional yang berikan kepada Adam, kemudian pencarian kebenaran dengan bertanya kepada Allah lagi, dan Allah memberikan literatur berupa ayatNya, dan muncullah sikap jujur Adam bahwa semuanya melalui sarana dari Allah.
Secara literatur buku, proses terjadinya berpikir pada umumnya terdiri dari tiga langkah yang harus dilalui, yaitu:
a.       Pembentukan Pengertian
Pembentukan pengertian atau yang lebih sering disebut sebagai pembentukan pengertian secara logis dibentuk melalui tiga tahapan. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis.
Objek tersebut diperhatikan unsure-unsurnya satu demi satu. Misalnya, proses membentuk pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa cirri-cirinya, misalnya:
a)      Manusia Indonesia, ciri-cirinya :
(1)   Makhluk hidup
(2)   Berbudi
(3)   Berkulit sawo matang
(4)   Berambut hitam, dsb
b)      Manusia Eropa, ciri-cirinya :
(1)   Makhluk hidup
(2)   Berbudi
(3)   Berkulit putih
(4)   Berambut pirang atau putih
(5)   Bermata biru terbuka, dsb
c)      Manusia negro, cirri-cirinya :
(1)   Makhluk hidup
(2)   Berbudi
(3)   Berkulit hitam
(4)   Berambut hitam keriting
(5)   Bermata hitam melotot, dsb
d)     Manusia cina, cirri-cirinya :
(1)   Makhluk hidup
(2)   Berbudi
(3)   Berkulit kuning
(4)   Berambut hitam lurus
(5)   Bermata hitam sipit, dsb
Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk ditemukan cirri-ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada, mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, cirri-ciri yang tidak hakiki, menangkap ciri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas, ciri-ciri yang hakiki itu adalah makhluk hidup yang berbudi.
b.      Pembentukan Pendapat  
Pembentukan pendapat merupakan tindakan untuk meletakkan hubungan antara dua hal pengertian atau lebih. Pendapat tersebut sering diungkapkan dalam bentuk kalimat, yang minimal terdiri dari subyek dan obyeknya. Pendapat yang muncul dari seseorang dapat dibedakan menjadi tiga macam, pembagian tersebut diantaranya adalah:
1)      Pendapat positif atau alternatif
Pendapat positif, yaitu pendapat yang menyatakan dengan jelas dan tegas adanya suatu keadaan yang dimiliki oleh hal tertentu dan bersifat baik atau positif.
a)      Budi adalah anak yang pandai
b)      Ani perempuan rajin
c)      Kucing itu cerdik
2)      Pendapat negative, yaitu pendapat yang menyatakan dengan jelas dan tegas tentang tidak adanya suatu sifat pada suatu hal dan bersifat tidak baik atau negatif.
a)      Budi adalah anak bodoh
b)      Ani perempuan malas
c)      Kucing itu nakal
3)      Pendapat modalitas, yaitu pendapat yang menerangkan kemungkinan-kemungkinan suatu sifat pada suatu hal,
a)      Budi mungkin tidak bisa hadir
b)      Ani sepertinya anak yang rajin
c)      Kucing itu mungkin nakal
c.       Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan disebut juga sebagai pembentukan keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada (diterjemahkan dan dikeluarkan berdasarkan hasil analisis dan pembentukan pendapat). Kesimpulan dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1)      Keputusan induktif
Keputusan induktif adalah keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum, misalnya:
a)      Tembaga dipanaskan akan memuai
b)      Perak dipanaskan akan memuai.
Kesimpulannya, bahwa logam bila dipanaskan akan memuai.
2)      Keputusan deduktif
Keputusan deduktif adalah keputusan yang ditarik dari hal yang umum menjadi hal yang khusus, misalnya:
a)      Semua mahkluk hidup akan meninggal
b)      Manusia adalah salah satu mahkluk hidup
Kesimpulannya, bahwa semua manusia akan mati
3)      Keputusan analogis
Keputusan analogis adalah keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada, misalnya:
a)      Toni anak yang rajin, sukses dalam hidupnya
Jadi, Toni anak yang rajin itu pasti sukses dalam hidupnya.
Otak manusia merupakan sumber dari segala kecerdasan manusia yang terbukti telah mampu melahirkan karya-karya besar dunia yang membentuk peradaban manusia sekarang ini. Berikut ini merupakan tugas dari otak manusia yaitu:
Otak Kiri
Otak Kanan
Kata-kata
Logika
Angka
Matematika
Urutan
Rima
Irama
Musik
Gambar
Imajinasi
Cortex cerebri atau neocortex merupakan bagian otak yang berfungsi untuk hal-hal yang bersifat rasional. Otak manusia dibungkus oleh lapisan tipis yang disebut meninges dan terdiri atas banyak lipatan sebagai gyrus. Cortex cerebri atau neocortex dikenal sebagai otak berpikir atau otak belajar yang juga sekaligus menjadi bagian otak luar yang menutupi bagian otak sebelah dalam yaitu sistem limbik. Neocortex (otak rasional) memiliki kemampuan untuk berpikir, persepsi, berbicara, berbahasa, berperilaku yang beradab dan berbudaya, belajar (imajinasi kreatif), memproses informasi, merasakan, dan bergerak.
 Sistem limbik (otak emosional) adalah bagian otak yang paling banyak memperoleh suplai darah, secara fisiologis posisinya sebagai perantara aktivitas otak yang terjadi antara bagian atas dan bawah. Penekanan terbaik sistem limbik berperan dalam penyatuan (integrasi) pemikiran rasional dan energi emosi. Peran penting lainnya adalah melalui peran thalamus dan hipothalamus bagian dari sistem limbik dalam mengatur seluruh aktivitas penting tubuh. Pada bagian inilah dipusatkan pengaturan emosi seperti; marah, senang, takut, kecewa, sedih, bahagia, agresif, defensif, haus, lapar, menangis, heran, kaget, bingung, senyum, tertawa, cemberut, dan berbagai emosi lainnya. Sistem limbik juga terlibat dalam pengiriman informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.



2.      Sarana Berpikir
Sebagaimana pada kutipan ayat dalam surat Al Baqarah ayat 31- 33 yang telah dijabarkan di atas, sehingga kita tahu bahwa yang menjadi sarana berpikir paling utama menurut ayat tersebut adalah komunikasi dan bahasa yang bertujuan untuk menyamakan persepsi subyek dan obyeknya, maka dalam bahasan ini akan dibahas tentang sarana berpikir menurut literatur keilmuan yang ada. Dalam hal literatur buku, secara umum dalam berpikir terdapat beberapa sarana untuk dapat berpikir secara ilmiah, diantaranya adalah:
a.         Bahasa
1)      Ciri-ciri Bahasa
Bahasa merupakan alat utama dalam terjadinya proses komunikasi untuk dapat terjadinya hubungan antara individu dengan individu yang lainnya. Bahasa didefinisikan dan dicirikan sebagai berikut:
a)      Serangkaian bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi
b)      Lambang dari serangkaian bunyi yang membentuk arti tertentu.
2)      Fungsi Bahasa
Dengan adanya bahasa, manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengalaman dan pemikiran mereka. Bahasa berfungsi sebagai:
a)      Alat komunikasi (fungsi komunikatif)
b)      Alat budaya yang mempersatukan manusia yang menggunakan bahasa tersebut (fungsi kohesif).
3)      Syarat Komunikasi
Sebagai faktor utama sarana berpikir, komunikasi menjadi fungsi utama dalam bahasa. Dalam hubungannya dengan sarana berpikir, maka komunikasi ilmiah memiliki syarat sebagai berikut:
a)      Bahasa harus bebas emotif
b)      Reproduktif, artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima.
4)      Kelemahan Bahasa
Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Namun, setiap sarana pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Adapun kekurangan bahasa terletak pada:
a)      Peranan bahasa yang multifungsi, artinya komunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran/penalaran saja, sedangkan bahasa verbal mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik.
b)      Arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa.
c)      Konotasi yang bersifat emosional.
b.         Logika
Logika adalah jalan pikiran yang masuk akal (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2003: 680). Logika disebut juga sebagai penalaran. Menurut Salam (1997: 140) penalaran atau logika adalah suatu proses penemuan kebenaran, dan setiap jenis penalaran memiliki kriteria kebenarannya masing-masing. Secara umum, adapun ciri-ciri dari logika atau penalaran adalah sebagai berikut:
1)      Pola berpikir yang disebut dengan logika,
2)      Analitis dalam berpikir.
c.         Matematika
Matematika mengembangkan bahasa kuantitatif dan cara berpikir deduktif. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang yang ada pada matematika bersifat artifisial artinya lambang itu mempunyai arti jika sudah diberi makna. Kekurangan yang ada dalam bahasa verbal dapat diatasi dengan menggunakan matematika.. Hal ini dimungkinkan karena Matematika itu bersifat:
1)      jelas,
2)      spesifik,
3)      informatif, dan
4)      tidak emosional
d.        Statistika
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika sering digunakan dalam penelitian ilmiah. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik, makin besar contoh atau sampe lyang diambil maka makin tinggi tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Statistika juga memberikan kemampuan untuk mengetahui suatu hubungan kausalita antara dua atau lebih faktor yang bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam hubungan yang bersifat empiris.
3.      Logika
Mantiiq atau logika, seperti yang dipelajari dalam ilmu-ilmu Islam, itu benar-benar berfungsi tentang dua hal:
a.       Cara membuat definisi yang tepat dari sebuah konsep. 
b.      Cara untuk membangun sebuah bukti hujah atau argumentasi, dan utk mendeteksi kelemahan dalam argumen yang rusak.
Menurut Bakhtiar (2009:212), ”Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan atura-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu”.
Logika merupakan kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (system) berpikir tertib dan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima oleh orang lain. Logika akan memberi suatu ukuran (norma) yakni suatu anggapan tentang benar dan salah terhadap suatu kebenaran. Ukuran kebenarannya adalah logis (Sumarna, 2008:141).
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari tentang asas, aturan, dan prosedur penalaran yang benar. Dengan istilah lain logika sebagai jalan atau cara untuk memperoleh pengetahuan yang benar (Susanto, 2011:143)
Sebagai sarana berpikir ilmiah, logika mengarahkan manusia untuk berpikir dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Dengan logika manusia dapat berpikir dengan sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan berpikir dengan benar maka harus menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang logis. Dengan logika dapat dibedakan antara proses berpikir yang benar dan proses berpikir yang salah.
Menurut Susanto (2011:146), ada tiga aspek penting dalam memahami logika, agar mempunyai pengertian tentang penalaran yang merupakan suatu bentuk pemikiran, yaitu pengertian, proposisi, dan penalaran. Pengertian merupakan tanggapan atau gambaran yang dibentuk oleh akal budi tentang kenyataan yang dipahami, atau merupakan hasil pengetahuan manusia mengenai realitas. Proposisi atau pernyataan adalah rangkaian dari pengertian-pengertian yang dibentuk oleh akal budi atau merupakan pernyataan mengenai hubungan yang terdapat di antara dua buah term. Penalaran adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan pengetahuan.
Keberadaan ketiga aspek tersebut sangat penting dalam memahami logika. Dimulai dari membentuk gambaran tentang obyek yang dipahami, kemudian merangkainya menjadi sebuah hubungan antar obyek, dan terakhir melakukan proses berpikir yang benar untuk menghasilkan pengetahuan. Tiga aspek dalam logika tersebut harus dipahami secara bersama-sama bagi siapapun yang hendak memahami dan melakukan kegiatan ilmiah. Tanpa melalui ketiga proses aspek logika tersebut, manusia akan sulit memperoleh dan menghasilkan kegiatan ilmiah yang benar.
Terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui cara kerja logika. Dua cara itu adalah induktif dan deduktif. Logika induktif adalah cara penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan rasional. Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan (Sumarna, 2008:150)
Kedua jenis logika berpikir tersebut bukanlah dua kutub yang saling berlawanan dan saling menjatuhkan. Kedua jenis logika berpikir tersebut merupakan dua buah sarana yang saling melengkapi, maksudnya suatu ketika logika induktif sangat dibutuhkan dan harus digunakan untuk memecahkan suatu masalah, dan pada saat lain yang tidak dapat menggunakan logika induktif untuk memecahkan masalah maka dapat digunakan logika deduktif. Seseorang yang sedang berpikir tidak harus menggunakan kedua jenis logika berpikir tersebut, tetapi dapat menggunakan satu logika berpikir sesuai dengan kebutuhan obyek dan kemampuan individunya.
Dasar – Dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam masalah logika ini terdapat dua macam, yaitu deduktif dan induktif. Adapun penjelasannya akan dijelaskan di sub bab selanjutnya.
Macam -Macam Logika
Pada dasarnya, secara prinsip logika dibagi menjadi dua macam, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Logika Alamiah
Logika ini disebut juga sebagai logika kodratiyah, definisinya adalah hasil kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif.Kemampuan logika alamiah manusia sudah diperoleh sejak kita dilahirkan.
b.      Logika Ilmiah
Logika ilmiah adalah ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yangharus ditepati dalam setiap pemikiran (standar pemikiran). Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiahdimaksudkan untuk menghindari kesesatan pemikiran, atau untuk mengurangi kekeliruan. Secara ringkas, ide dan logika adalah hasil kreatifitas serta manipulasi pemikiran manusia yang didasari oleh akal sehat. Target dari kegiatan berpikir iniadalah untuk mencari jalan keluar (solusi), atau dapat juga berupa teori baruterhadap permasalahan yang membutuhkan pemikiran jernih.
4.      Berpikir Induktif (Fokus)
a.       Pengertian Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan di fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak. Karena itu sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara, Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis.
Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya, kemudian pada tahap pengujian hipotesis proses induksi mulai memegang peranan di mana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah suatu hipotesis di dukung fakta atau tidak. Sehingga kemudian hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak.
b.      Macam-Macam Penalaran Induktif
1)      Generalisasi
Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.
Generalisasi juga di sebut induksi tidak sempurna (lengkap). Guna menghindari generalisasi yang terburu – buru, Aristoteles berpendapat bahwa bentuk induksi semacam ini harus di dasarkan pada pemeriksaan atas seluruh fakta yang berhubungan, tapi semacam ini jarang di capai. Jadi kita harus mencari jalan yang lebih prakis guna membuat generalisasi yang sah.
Tiga cara pengujian untuk menentukan generalisasi:
a)      Menambah jumlah kasus yang di uji, juga dapat menambah probabilitas sehatnya generalisasi. Maka harus seksama dan kritis untuk menentukan apakah generalisasi ( mencapai probabilitas ).
b)      Hendaknya melihat adakah sample yang di selidiki cukup representatif mewakili kelompok yang di periksa.
c)      Apabila ada kekecualian, apakah juga di perhitungkan dan di perhatikan dalam membuat dan melancarkan generalisasi?
2)      Analogi
Pemikiran ini berangkat dari suatu kejadian khusus ke suatu kejadian khususnya lainnya, dan menyimpulkan bahwa apa yang benar pada yang satu juga akan benar pada yang lain.
Contohnya:
Sartono sembuh dari pusing kepalanya karena minum obat ini. Pengetahuan secara analogis adalah suau metode yang menjelaskan barang-barang yang tidak biasa dengan istilah-istilah yang di kenal ide-ide baru bisa di kenal atau dapat di terima apabila di hubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Analogi Induktif adalah suatu cara berpikir yang di dasarkan pada persamaan yang nyata dan terbukti. Jika memiliki suatu kesamaan dari yang penting, maka dapat di simpulkan serupa dalam beberapa karakteristik lainnya. Apabila hanya terdapat persamaan kebetulan dan perbandingan untuk sekedar penjelasan, maka kita tidak dapat membuat suatu kesimpulan.
3)      Hubungan Kausalitas
Berupa sebab sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab.

Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
a)      Hubungan sebab-akibat.
Yaitu dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat, sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi itu.
b)      Hubungan akibat-sebab.
Yaitu dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
c)      Hubungan sebab-akibat1-akibat2
Yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
Contoh :
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
c.       Induksi Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/ cara/ proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Berikut ini adalah langkah-langkah menyusun metode eksposisi:
1)      Menentukan topik/tema
2)      Menetapkan tujuan
3)      Mengumpulkan data dari berbagai sumber
4)      Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
5)      Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
5.      Berpikir Deduktif (Menyebar)
a.       Pengertian Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Berpikir deduktif didefinisikan sebagai cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Berpikir deduktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif (www.id.wikipedia.com).
Maka dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif dan penalaran induktif diperlukan dalam proses pencarian pengetahuan yang benar.
b.      Macam-macam Penalaran Deduktif
1)      Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.
Ada dua tipe argumen deduktif silogisme, yaitu adalah silogisme kategoris dan silogisme hipotetis.
a)      Silogisme Kategoris
Silogisme kategoris adalah argumen yang pasti terdiri atas dua premis dan satu konklusi, dengan setiap pernyataannya dimulai dengan kata semua, tidak ada, dan beberapa atau sebagian, dan berisi tiga bagian yang masing-masing hanya boleh muncul dalam dua proposisi silogisme.
Premis 1 : Semua atlet adalah orang yang sehat jiwa raga.
Premis 2 : Beberapa pelajar adalah atlet.
Konklusi : Jadi, beberapa pelajar adalah orang yang sehat jiwa raga.
b)      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis adalah silogisme yang memiliki pernyataan kondisional atau bersyarat pada premisnya. Ada tiga jenis silogisme hipotetis, yaitu silogisme kondisional yang mengandung anteseden (syarat) dan konsekuensi; silogisme disjungtif berupa pernyataan yang menawarkan dua kemungkinan; dan silogisme konjungtif yang bertumpu pada kebenaran proposisi kontraris. Kesahihan dan ketidaksahihan setiap bentuk silogisme tersebut diukur dengan hukum dan prinsip dasar berpikir deduktif, menyangkut pengakuan dan pengingkaran pada premisnya.
Beberapa contoh silogisme hipotetis terlihat di bawah ini:
(1)   Silogisme hipotetis:
(a)    Bila hari tidak hujan, Ani akan pergi ke bandara.
(b)   Hari hujan.
Oleh karena itu, Ani tidak pergi ke bandara.
(2)   Silogisme disjungtif:
   A atau B                         Arif menulis prosa atau puisi
   Ternyata bukan A           Ternyata Arif tidak menulis prosa
   Maka B                           Maka, Arif menulis puisi
(3)   Silogisme konjungtif:
   A tidak mungkin            Arif tidak mungkin sekaligus menulis prosa dan puisi sekaligus B dan C
   Ternyata A adalah B      Ternyata Arif menulis prosa
   Maka, A bukan C           Maka, Arif tidak menulis puisi
2)      Entimem
Dalam kehidupan sehari-hari kita jarang menggunakan bentuk silogisme yang lengkap. Demi kepraktisan, bagian silogisme yang dianggap telah dipahami, dihilangkan. Inilah yang disebut entimem.
Contoh :
Premis mayor: Semua rentenir adalah penghisap darah orang yang sedang kesusahan.
Premis minor: Pak Budi adalah rentenir.
Kesimpulan: Pak Budi adalah penghisap darah orang yang sedang kesusahan.
Entimem: Pak Budi adalah rentenir, penghisap darah orang yang sedang kesusahan.
Jadi, dari penjelasan tentang berpikir deduktif yang termanifestasi dalam bentuk silogisme kategoris dan silogisme hipotetis (kondisional, disjungtif, dan konjungtif) dapat disimpulkan bahwa berpikir deduktif adalah cara berpikir logis yang mengikuti serangkaian aturan. Di dalamnya berlangsung aktivitas berpikir analisis dan sintesis terhadap kondisi atau situasi yang ada.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Sarana berpikir merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang akan ditempuh agar memperoleh pengetahuan dengan benar. Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang berupa sarana berpikir. Sarana berpikir berfungsi hanyalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu.
Bahasa merupakan sarana mengkomunikasikan cara-cara berpikir sistematis dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar. Logika sebagai sarana berpikir mengarahkan manusia untuk berpikir dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Logika membantu manusia dapat berpikir dengan sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan berpikir dengan benar maka harus menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang logis. Logika dapat membedakan antara proses berpikir yang benar dan proses berpikir yang salah.
















DAFTAR PUSTAKA

Mufaesa. 2011. Sarana Berpikir Ilmiah. Diperoleh http://mufaesa.blogspot.com/2011/11/makalah-sarana-berpikir-ilmiah.html (diakses tanggal 17 Oktober 2012).

Qur’an Hafalan. 2010. Jakarta: Al Mahira.

Ramadhy, Sufyan. 2001. Filsafat Kausa. Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa.

Ramadhani, Robi. 2010. Cara Berpikir Induktif. Diperoleh http://obyramadhani.wordpress.com/2010/05/16/cara-berfikir-induktif/ (diakses tanggal 16 Oktober 2012).

Rasyid, Daud. 2007. Metode Berfikir Islami. Fany Media. Al Islamu.com

Riyanto, Bambang. 2009. Filsafat Ilmu Sarana Berpikit Ilmiah. Diperoleh http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/filsafat-ilmu-sarana-berpikir-ilmiah/ (diakses tanggal 17 Oktober 2012).

Santo, Kusikh. 2010. Berpikir Induktif. Diperoleh http://kusikhsanto.wordpress.com/2010/04/14/berpikir-induktif/ (diakses tanggal 16 Oktober 2012).

Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

The Mind Gym. Wake Your Mind Up. PT Gramedia.

Umar Ibn Abd Al-Aziz. 2004. Segarkan Imanmu dengan Ibadah Berfikir. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.




0 komentar:

Posting Komentar