Feeds RSS

Rabu, 01 Mei 2013

KOMUNIKASI TERAPEUTIK (Kemampuan Menjadi Model, Interaksi Sosial, dan Mengembangkan Konsep “Helping Relationship”)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1    Kemampuan Menjadi Model
    Kebiasaan yang kurang baik tentang kesehatan akan mempengaruhi keberhasilan dalam hubungan antara perawat dan klien. Perawat tidak bisa memisahkan atau memberi batasan yang jelas antara peran sebagai perawat dengan kehidupan pribadinya (professional) karena perawat sebagai instrumen dalam menjalankan hubungan yang terapeutik. Jika perawat terbuka pada perasaan fokus terhadap pasien dan mengesampingkan kehidupan pribadinya, maka ia akan mendapat dua informasi penting yaitu bagaimana responnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien sehingga perawat mampu bekerja profesional.
    Kemampuan menjadi model ini merupakan bentuk tanggung jawab perawat terhadap apa yang disampaikan kepada klien disamping tanggung jawab profesi.
Perawat yang bisa menjadi model adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadinya serta tidak didominasi oleh konflik, distress atau pengingkaran (Stuart,G.W., 1998) perawat senantiasa memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat harus bertanggung jawab terhadap perilakunya, sadar akan kelemahan, dan kekurangannya. Perawat harus mampu memisahkan hubungan professional dan kehidupan pribadi.

2.2    Interaksi Sosial
    Interaksi sosial adalah interaksi hubungan komunikasi yang bertujuan untuk menghasilkan rasa saling percaya dan rasa nyaman bagi klien, sehingga proses tukar menukar perasaan dan sikap dapat berjalan secara adekuat dan pengkajian tentang masalah kesehatan klien dapat dilaksanakan dengan baik. 
    Perawat yang terampil tidak akan mendominasi interaksi sosial, tetapi dia akan berusaha memelihara kehangatan suasana komunikasi untuk menghasilkan rasa saling percaya dan rasa nyaman bagi klien, sehingga proses tukar menukar perasaan dan sikap dappat berjalan secara dengan adekuat dan pengkajian tentang masalah kesehatan klien dapat dilaksanakan dengan baik.
Perawat sering menggunakan interaksi sosial yang masih dangkal (superfisial) tersebut pada awal percakapan dengan klien sebagai dasar menciptakan hubungan yang saling percaya dan lebih akrab dengan klien.
Misalnya:
“Assalaamualaikum/selamat siang pak, apa kabar, senang bertemu bapak hari ini.”

2.3    Mengembangkan Konsep “Helping Relationship”
    Menurut Travelbee (1971): Hubungan perawat dan klien tidak sekedar hubungan mutualis melainkan sebagai “a human to human relationship”. Kelemahan yang ada pada perawat dan klien akan menjadi hilang ketika masing-masing pihak yang terlibat interaksi memahami dan mencoba kondisi masing-masing. Perawat menggunakan keterampilan komunikasi interersonalnya untuk mengembangkan hubungan dengan klien yang akan menghasilkan pemahaman tentang klien sebagai manusia yang utuh. Hubungan semacam ini bersifat terapeutik yang dapat meningkatkan iklim psikologis yang kondusif dan memfasilitasi perubahan dan perkembangan positif pada diri klien.
    Peran utama perawat adalah meyakinkan bahwa kebutuhan fisiologi pasien benar-benar  terpenuhi. Kreasi dari lingkungan yang terapeutik dapat memacu kemampuan perawat untuk memberikan kenyamanan fisik dan psikososial pada klien.
    Helping relationship (hubungan yang saling membantu) antara perawat dan klien tidak dapat begitu saja terjadi.
Carl Rogers (1961) berpendapat: bahwa komunikasi terapeutik bukan tentang apa yang dilakukan seseorang, tetapi bagaimana seseorang itu melakukan komunikasi dengan orang lain.

Rogers mengidentifikasi tiga faktor :
1.    Perawat harus benar-benar ikhlas dan memahami tentang dirinya.
2.    Perawat harus menunjukan rasa empati
3.    Individu yang dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatunya tentang dirinya dalam menjalin hubungan.

Tiga hal mendasar dalam pengembangan relationship.
1. Genuineness (keikhlasan)
    Perawat yang mampu menunjukan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap dan perasaan yang dipunyai klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikannya secara tepat.
    Perawat tidak akan menolak segala bentuk perasan negatif yang dipunyai klien, bahkan ia akan berusaha berinteraksi dengan klien, hasilnya perawat akan mampu mengeluarkan segala perasaan yang dimiliki, bukan dengan cara menyalahkan atau menghukum klien, sehingga kapasitas yang dimiliki untuk mencapai hubungan yang saling menguntungkan akan meningkat secara bermakna.
2. Empati 
    Empati merupakan perasaan, ”pemahaman” dan ”penerimaan” perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan merasakan dunia pribadi klien. Empati adalah perasaan yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (objektif) yang didasarkan atas apa yang dialami oleh klien. Empati adalah kemampuan menempatkan diri kita pada diri orang lain, bahwa kita telah memahami bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain.
Beberapa aspek dari empati antara lain:
a.    Aspek mental
Kemampuan melihat dunia orang lain dengan menggnakan paradigma orang lain tersebut. Aspek mental juga berarti memahami orang tersebut serta memahami orang tersebut secara emosional dan intelektual.
b.    Verbal
Kemampuan mengungkapkan secara verbal pemahaman terhadap perasaan dan alasan reaksi emosi klien. Aspek verbal dalam menunjukkan empati memerlukan hal-hal keakuratan, kejelasan, kealamiahan, dan mengecek.
c.    Aspek non verbal
Aspek non verbal yang diperlukan adalah kemampuan menunjukkan empati dengan kehangatan dan kesejatian.

    Sebagai perawat yg empatik, perawat harus berusaha keras untuk mengatahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan dan dialami klien sesuai dengan emosi klien. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian berdasarkan kata hati (impulsive judgement) tentang seseorang.
Empati berbeda dengan simpati. Simpati bersifat subjektif dengan melihat  “dunia orang lain”, simpati adalah kecenderungan berfikir tentang apa yang sedang dilakukan klien seperti rasa kagum. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya.
    Wheeler dan Wolberg yang dikutip oleh Stuart Sundeen (1998) membagi dua tipe empati:
•    Empati Dasar (Basic Empaty)
Merupakan respon alamiah dari seseorang untuk mengerti orang lain. Contoh: ketika ada anak kecil menangis, secara spontan seseorang akan bertanya, “Ada apa Nak? Kenapa menangis?” sambil mengusap kepala anak.
•    Empati Terlatih (Trained Empaty/Professional Empaty)
Merupakan kemampuan berempati yang diperoleh setelah melalui training dalam rangka menolong orang lain. Perawat yang telah belajar komunikasi terapeutik atau yang telah memperoleh pelatihan tentang empati tentu akan mampu berempati secara tepat.
3.    Warmth (Kehangatan)
Hubungan yang saling membantu (helping relationship) dilakukan untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan “uneg-uneg” secara bebas. Dengan warmth (kehangatan), perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permsif, dan tanpa adanya ancaman menunjukan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien.
Sehingga klien bisa bebas untuk mengungkapkan perasaannya. Kondisi seperti ini akan membuat perawat mempunyai kesempatan lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klien. Kehangatn dapat dikomunikasikan secara nonverbal. Penampilan perawat yang tenang, suara yang meyakinkan, dan pegangan tangan yang halus menunjukan rasa belas kasihan atau kasih sayang perawat kepada klien.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kemampuan menjadi model merupakan bentuk tanggung jawab perawat terhadap apa yang disampaikan kepada klien disamping tanggung jawab profesi. Perawat tidak bisa memisahkan atau memberi batasan yang jelas antara peran sebagai perawat dengan kehidupan pribadinya (professional) karena perawat sebagai instrumen dalam menjalankan hubungan yang terapeutik.
Perawat yang bisa menjadi model adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadinya serta tidak didominasi oleh konflik, distress atau pengingkaran (Stuart,G.W., 1998) perawat senantiasa memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat harus bertanggung jawab terhadap perilakunya, sadar akan kelemahan, dan kekurangannya. Perawat harus mampu memisahkan hubungan professional dan kehidupan pribadi.
Interaksi sosial adalah interaksi hubungan komunikasi yang bertujuan untuk menghasilkan rasa saling percaya dan rasa nyaman bagi klien, sehingga proses tukar menukar perasaan dan sikap dapat berjalan secara adekuat dan pengkajian tentang masalah kesehatan klien dapat dilaksanakan dengan baik. 
Menurut Travelbee (1971): Hubungan perawat dan klien tidak sekedar hubungan mutualis melainkan sebagai “a human to human relationship”. Kelemahan yang ada pada perawat dan klien akan menjadi hilang ketika masing-masing pihak yang terlibat interaksi memahami dan mencoba kondisi masing-masing. 


DAFTAR PUSTAKA

Mundakir. 2004. Ilmu Komunikasi Keperawatan.

Damaiyanti, Mukhripah. 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan. Bandung: Refika Aditama.

Nurhasanah, Nunung. 2010. Ilmu Komunikasi dalam Konteks Keperawatan. Jakarta: CV Trans Info Media.

0 komentar:

Poskan Komentar